Selasa, 26 Apr 2016 16:58 WIB

Kurang Informasi, Parkinson Sering Dikira Saraf Kejepit

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Foto: Thinkstock
Jakarta - Kesadaran dan pemahaman masyarakat Indonesia terkait penyakit Parkinson dinilai pakar masih sangat rendah. Akibatnya, pasien Parkinson sering mengalami misdiagnosis.

dr Frandy Susatia, SpS, dari Siloam Hospitals Kebon Jeruk mengatakan gejala-gejala umum penyakit Parkinson antara lain tubuh bungkuk, gerakan yang lamban, badan kaku dan tremor saat istirahat hingga sulit buang air besar serta gangguan kecemasan.

"Karena bingung akhirnya periksa ke dokternya berdasarkan gejala. Jalan pelan, badan kaku periksanya ke dokter tulang karena dikira penyakitnya saraf kejepit," tutur dr Frandy, dalam temu media di Siloam Hospitals Kebon Jeruk, Jl Raya Perjuangan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Selasa (26/4/2016).

Baca juga: Tidur Nyenyak, Cara Terbaik Bantu Redakan Gejala Parkinson

Selain ke dokter tulang, pasien Parkinson juga sering salah berobat ke dokter jiwa. Soal hal ini, dr Frandy mengatakan memiliki pengalaman dari pasien yang berobat kepadanya.

Diceritakan dr Frandy, pasien tersebut sudah berobat selama 9 bulan ke dokter jiwa tanpa hasil yang memuaskan. Pasien mengeluhkan sering cemas serta susah tidur. Setelah akhirnya diperiksa, diketahui pasien tersebut bukan mengidap gangguan jiwa, melainkan Parkinson.

"Setelah itu kita obat dengan tata laksana Parkinson ya akhirnya keluhannya berkurang. Tidak lagi terlalu cemas dan akhirnya bisa tidur lagi," tuturnya.

Oleh karena itu dr Frandy berharap masyarakat bisa lebih waspada dan mencari tahu soal penyakit Parkinson. Jika pasien sering mengalami tremor saat beristirahat, sudah berusia di atas 60 tahun dan badan kaku, ada baiknya memeriksakan diri ke dokter saraf.

Baca juga: Takut Stigma, Sepertiga Pasien Parkinson Sembunyikan Gejala

"Parkinson memang tidak akan membuat seseorang meninggal. Tapi jika sudah stadium 5 pasien sudah bed-ridden, hanya bisa di tempat tidur. Akhirnya menyebabkan cacat dan disabilitas dan tentu saja mengurangi kualitas hidup," tuturnya. (mrs/vit)