Juru bicara untuk St George Hospital mengonfirmasi pria berusia 21 tahun tersebut telah dirawat dan kondisinya stabil. Racun menyebabkan pembengkakan, mual, dan keringat dingin. Tapi berkat pemberian antiracun nyawanya tak terancam.
Ahli laba-laba Redback Julian White dari Women's and Children's Hospital, Adelaide, mengatakan kasus gigitan laba-laba di Australia sebetulnya cukup umum. Hanya saja yang membuat kasus sang pria menjadi unik adalah karena gigitan terjadi di penis dan saat dirinya sedang berada di dalam toilet.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Melihat sekitar 80 tahun lalu saat orang-orang masih menggunakan toilet alam gigitan seperti ini sangat umum, sekitar 80 persen kasus gigitan terjadi pada genital pria. Sekarang ketika orang-orang sudah menggunakan toilet kasus ini menjadi jarang, saya bahkan tak bisa memikirkan satu contoh kasus," kata White seperti dikutip dari The Advertiser, Kamis (28/4/2016).
Sebelum antiracun dikembangkan pada tahun 1950, gigitan karena laba-laba Redback memang diketahui dapat membunuh manusia. Kini karena antiracun sudah banyak tersedia seseorang yang digigit disarankan untuk menggunakan kompres dingin di lokasi gigitan sambil menunggu paramedis datang.
"Tapi tentu rasanya sakit karena racun menstimulasi saraf di sekitar lokasi gigitan membuat bengkak dan meningkatkan tekanan darah. Hal ini akan membuat anda merasa tersiksa," ungkap White.
Laba-laba Redback sendiri diketahui senang menyukai tempat yang dingin dan tinggal dekat dengan permukiman manusia. Hal ini karena kehadiran manusia menarik serangga dan laba-laba kecil lain yang merupakan makanannya.
Baca juga: Obat Pereda Nyeri Generasi Baru Siap Dibuat dari Bisa Tarantula
(fds/vit)











































