Senin, 09 Mei 2016 16:08 WIB

Apakah Anda Takut ke Dokter?

Ragam Cara Agar Tidak Takut Saat Harus Bertemu Dokter Gigi

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: Thinkstock
Jakarta - Survei kecil-kecilan yang dilakukan detikHealth baru-baru ini mengungkap, dokter gigi berada di urutan kedua teratas sebagai dokter yang paling ditakuti responden setelah dokter spesialis penyakit dalam.

Tahukah Anda ketakutan ini pada dasarnya tanpa sengaja ditanamkan orang tua kepada anak-anaknya sejak kecil? Sebuah penelitian yang dilakukan di Spanyol pada tahun 2012 memastikan hal ini.

Peneliti dari Rey Juan Carlos University of Madrid menemukan, ketakutan ayah, ibu dan anak-anaknya terhadap dokter gigi itu 'saling berkaitan'. Bahkan semakin tinggi tingkat ketakutan atau kecemasan salah satu anggota keluarga terhadap dokter gigi akan semakin memperburuk tingkat ketakutan seluruh keluarga terhadap dokter yang sama.

"Ada perpindahan emosional yang terjadi pada seluruh anggota keluarga," kata salah satu peneliti, America Lara Sacido.

Tak hanya itu, ayah dianggap memainkan peranan lebih besar dalam menentukan apakah seorang anak takut pada dokter gigi atau tidak. "Anak-anak tampaknya lebih sering memperhatikan reaksi emosional dari sang ayah ketika memutuskan apakah situasi di ruang praktik dokter gigi nanti berpotensi memicu stres atau tidak," tutupnya.

Seperti dikutip dari Anxietycare.org.uk, mayoritas ketakutan pada dokter gigi maupun prosedur yang menyertainya sebenarnya tergolong ringan. Namun ternyata sebanyak lima persen dari populasi mengalami fobia pada hal ini.

Fobia pada prosedur gigi umumnya dialami oleh wanita, dan dipicu oleh ketakutan pada suntikan dan bor gigi. Menariknya, secara umum penderita fobia prosedur gigi dan dimulai sejak kecil atau setidaknya remaja. Biasanya orang tua yang bersangkutan juga mengalaminya. Pernyataan ini juga menunjukkan adanya kesesuaian dengan studi yang dilakukan di Spanyol beberapa waktu lalu.

Pada kasus ekstrem, penderita fobia ini juga sangat peka atau cemas jika sewaktu-waktu mengalami tersedak atau ketika benda asing masuk ke dalam mulutnya. Tak jarang mereka jadi enggan menyikat gigi atau bahkan 'ngamuk' saat lehernya disentuh ketika menjalani pemeriksaan gigi.

Lalu bagaimana cara mengatasinya? Berikut beberapa trik yang dilakukan dokter gigi Indonesia untuk menenangkan pasien yang ketakutan, seperti dirangkum detikHealth, Senin (9/5/2016).

Baca juga: 6 Tanda Orang Perlu Mencari Dokter Gigi Baru

1. Kenalkan peralatan
"Yang terpenting, anak jangan sampai disakiti dahulu karena itu bisa menyebabkan trauma. Lalu kenalkan peralatan, ajak bicara biar lebih nyaman," kata drg Chaidar Masulili, SpPros(K) dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.

drg Chaidar mencontohkan, membiasakan anak untuk merawat giginya sendiri juga merupakan bagian untuk melatih mereka tidak takut terhadap dokter gigi. Seperti halnya yang dilakukan drg Chaidar pada anak-anaknya. "Dari masih bayi waktu belum ada giginya, sudah kita ajarkan untuk gosok-gosok gusi pakai kasa sekaligus untuk merangsang pertumbuhannya. Begitu tumbuh, kita belikan sikat gigi anak lalu dipangku sama kita disuruh sikat gigi. Diajarkan saja seperti itu," tuturnya.

2. Komunikasi
Prof Dr drg Melanie S Djamil, MBiomed, Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti menjelaskan, ketakutan pada dokter gigi biasanya berawal dari trauma masa kecil, yang artinya banyak dokter gigi zaman dahulu yang belum bisa dan/atau merasa komunikasi dengan pasien tidaklah penting.

Untuk mengatasinya, maka sedari awal, drg Melanie selalu berusaha memberikan info selengkap-lengkapnya pada pasien terkait prosedur yang akan dijalaninya, bagaimana nanti penanganannya, apakah akan terasa sakit dan jangan lupa meminta persetujuan pasien atau orangtua pasien sebelum melakukan tindakan pada gigi. Hal ini adalah kunci penting untuk membangun kepercayaan pasien kepada dokter.

"Berkomunikasi dengan anak-anak malah lebih gampang ketimbang dengan orang dewasa yang sudah terlanjur takut dengan dokter gigi. Jadi peran orangtua juga penting untuk membuat anak mau menjaga kesehatan gigi dan rongga mulutnya, dokter gigi hanyalah operator," paparnya.

3. Pengamatan psikologis
Ketika dihadapkan pada pasien anak yang takut dengan dokter gigi, Prof drg Heriandi Sutadi, SpKGA(K), PhD dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitaa Indonesia mengatakan, setiap dokter gigi seharusnya juga belajar tentang psikologi dan tumbuh kembang anak. "Ada teknik pendekatan khusus yang disebtu desensitisasi, yakni pendekatan step by step," tandasnya.

20 tahun berpraktik sebagai dokter gigi anak, Prof Heriani mengatakan orang tua yang overprotective merupakan salah satu penghambat dalam memberikan tindakan terbaik bagi pasiennya.

"Anaknya takut disakiti padahal kita sendiri tidak akan menyakiti anak tapi kita punya prosedur, suntik ya harus disuntik. Suntik sakit tidak dok? Ya di mana pun namanya disuntik ya pasti sakit, tapi untuk mengurangi rasa sakit jelas kita ada alat tertentu. Diobati dulu biar kebal, baru teknik menyuntiknya dengan teknik tertentu dengan obat tertentu jadi tidak sakit," paparnya.

4. Dibiasakan periksa gigi sejak kecil
"Sejak gigi susunya mulai tumbuh, usahakan mulai mengatur jadwal untuk mengunjungi dokter gigi," saran drg Ratu Mirah Afifah, GCClindent, MDSc.

Hal ini perlu dilakukan agar anak tidak takut pada dokter gigi. Yang tak kalah penting, orang tua juga harus mengikuti jadwal periksa gigi secara teratur, sehingga anak menjadi terbiasa.

Dalam kesempatan yang sama, drg Syarif Hidayat, SpKGA(K) mengingatkan, anak yang baru tumbuh giginya kebanyakan mengalami pengeroposan karena tidur sambil menyusu atau biasa disebut nursing bottle karies.

"Walaupun anak belum bisa menyikat gigi, ibu dapat membantu dengan membasahi kapas dan membersihkan gigi anak atau memberi air putih untuk diminum sebelum tidur setelah minum susu," timpalnya.

5. Menganggap pasien seperti teman
Trik ini dimiliki drg Dedy Yudha Rismanto, SpPerio., yang juga staf pengajar di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Ia sempat kebingungan ketika melihat hampir seluruh pasien yang datang kepadanya masuk ke ruang praktik sambil menangis, tak terkecuali pasien dewasa.

"Untuk itu, dokter gigi harus bisa memahami psycho-management pasien dan trik menanganinya. Salah satu triknya adalah mengajak pasien untuk menjadi teman," ujarnya.

Di awal kunjungan biasanya ia akan mengajak pasiennya berbincang-bincang agar suasananya lebih santai. Tak jarang ia juga meminta pasien yang sudah memiliki anak untuk membawa anaknya datang saat melakukan kontrol periodik. Ini dilakukan agar di benak anak tersebut akan tertanam bahwa dokter gigi tidak seseram yang mereka bayangkan.

6. Menyelami dunia anak
Untuk menghilangkan kesan menakutkan, drg Suzanty Ariany, SpKGA dari RSPI Jakarta Selatan punya satu cara unik untuk mendekati anak, yaitu masuk ke dunia mereka. "Jadi ada anak yang suka sekali sama Thomas (karakter kereta api Thomas), kebetulan saya hapal semua nama di Thomas itu. Karena dia merasa saya seperti dia yang suka Thomas, jadi saya sudah dianggap teman. Karena itu bisa lebih mudah memeriksa giginya," paparnya.,

Ruang praktiknya juga dipenuhi boneka dan televisi untuk memutarkan film atau acara kesukaan si anak. Koleksi filmnya pun beragam, karena disesuaikan dengan usia pasiennya.

"Kita juga harus melihat karakter anak. Biasanya anak di bawah tiga tahun itu takut suara dan sangat depend pada orang tua. Usia 4, 5, 6 hingga 10 tahun beda-beda. Kognisinya beda-beda. Kita harus tahu benar karakter anak," terangnya.

Selain berkomunikasi dengan orang tua, tak jarang drg Susi menanyakan apa kesukaan anak, semisal rasa pasta gigi, atau meminta mereka membelikan sikat gigi yang bisa berputar, agar si anak tidak kaget ketika 'dipertemukan' dengan bor gigi.

Yang terpenting, dokter harus berkata jujur kepada anak. "Misal giginya mau dicabut, dibilang saja giginya mau diambil dan supaya nyaman dibius dulu giginya, caranya begini. Dijelaskan dengan bahasa yang tidak menakutkan," lanjut drg Susi. (lll/vit)