Direktur Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, drh I Ketut Diarmita MP, mengatakan potensi risiko penularan flu burung dari unggas ke manusia terjadi paling sering di sektor perumahan. Terutama ketika unggas dalam bentuk hidup dibeli dan dibawa pulang ke rumah.
"Kalau belinya di pasar becek itu kan potensi unggasnya terinfeksi AI (Avian influenza) tinggi. Makanya kalau beli ayam atau bebek, beli dagingnya saja. Karena risiko penularan ke manusia melalui daging itu sangat rendah," ungkap Ketut, dalam temu media di Kementerian Pertanian, Senin (16/5/2016).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayangnya, ia mengakui belum ada lembaga atau bentuk pengawasan formal yang menjaga kesehatan unggas dari pasar ke rumah. Kementerian Pertanian hanya mampu mengawasi peredaran dan kesehatan unggas dari peternak hingga ke pasar.
Untuk itu, kesadaran masyarakat tentang flu burung masih harus ditingkatkan. Perhatikan kondisi lingkungan sekitar dan cari informasi soal kasus flu burung di tayangan berita.
James McGrane, Team Leader Food and Agriculture Organization, Emergency Centre for Transboundary Animal Diseases (FAO-ECTAD) menyebut pemeliharaan unggas, termasuk burung, itik dan ayam, di lingkungan rumah sangat tidak disarankan.
Menurutnya, hewan-hewan tersebut berpotensi besar mengidap virus flu burung dari burung-burung liar atau sumber air di sekitar yang sudah terkontaminasi virus. Meski begitu, bukan berarti seseorang tidak boleh sama sekali memelihara burung atau ayam.
"Jikapun ingin memelihara ayam atau burung, jaga kesehatannya. Perhatikan kebersihan lingkungan dan pastikan hewan peliharaan mendapat vaksinasi," tuturnya.
Baca juga: Kasus Flu Burung Meningkat, Ditengarai karena El Nino (mrs/vit)











































