Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, drh I Ketut Diarmita, MP, mengatakan data yang dimiliki Kementerian Pertanian menyebut virus flu burung sering kali dormant atau tidak aktif di musim kemarau. Memasuki musim hujan, virus baru aktif dan rajin berkembangbiak.
"Ketika suhu sudah sesuai dengan lingkungannya, sudah pas buat dia, baru virus yang sebelumnya tidur di dalam tubuh unggas-unggas itu bangkit. Pinter itu virus flu burung," ungkap Ketut, dalam temu media di Kementerian Pertanian, Senin (16/5/2016).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Kasus Flu Burung Meningkat, Ditengarai karena El Nino
James McGrane, Team Leader Food and Agriculture Organization, Emergency Centre for Transboundary Animal Diseases (FAO-ECTAD) mengatakan hal yang sama. Perubahan temperatur cuaca dari dingin ke panas dan sebaliknya membuat virus lebih mudah berkembang biak.
"Kelembapan yang tinggi membuat virus lebih mudah hidup dan seperti kita ketahui, musim hujan di Indonesia selalu meningkatkan kelembapan. Pola ini sudah kita ketahui sejak dulu," ungkapnya.
Ketut mengatakan memang sudah ada beberapa langkah yang dilakukan agar penyebaran virus flu burung di musim hujan tidak separah biasanya. Langkah pertama yang dilakukan adalah memastikan peternak sudah melakukan vaksinasi kepada unggas.
"Memang pola selalu berulang tapi kok nggak selesai-selesai tampaknya. Padahal kita sudah melakukan langkah-langkah seperti vaksinasi, dan strategi lainnya," tutur Ketut.
Baca juga: Peneliti Ungkap Tipe Virus yang Berpotensi Picu Wabah
(mrs/vit)











































