Direktur Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, drh I Ketut Diarmita MP, mengatakan kasus flu burung memang mengalami tren penurunan dari tahun ke tahun. Namun hal ini tentunya bukan alasan untuk lengah dan berpangku tangan.
"Trennya memang turun, tapi nggak hilang-hilang. Beda dengan Malaysia yang sudah bebas dari flu burung sejak beberapa tahun lalu. Di kita memang makin sedikit, dan targetnya tahun 2020 kita sudah bebas dari flu burung," tutur Ketut, dalam temu media di Kementerian Pertanian, Senin (16/5/2016).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sektor peternakan, vaksinasi sudah diwajibkan minimal 5 kali pada unggas. 3 Kali sebelum masa bertelur dan 2 kali ketika masa bertelur.
Baca juga: Musim Hujan, Waspada Penyebaran Virus Flu Burung
Namun menurunnya jumlah kasus flu burung membuat peternak lengah. Ketut mengatakan peternak menganggap vaksinasi biasa saja sudah cukup. Padahal dibutuhkan booster agar vaksin yang masuk ke tubuh unggas bisa bekerja maksimal.
"Terutama pada peternak umbaran yang unggasnya dibiarkan mencari makan sendiri. Virus AI (avian influenza) sangat mudah menyebar di sini," tambahnya.
Khusus untuk penularan kepada manusia, Ketut mengatakan saat ini sudah sangat menurun drastis, terutama di sektor peternakan. Yang harus diwaspadai adalah penularan di sektor rumah dari ayam, itik atau burung peliharaan.
James McGrane, Team Leader Food and Agriculture Organization, Emergency Centre for Transboundary Animal Diseases (FAO-ECTAD) menyebut pemeliharaan unggas, termasuk burung, itik dan ayam, di lingkungan rumah sangat tidak disarankan.
Menurutnya, hewan-hewan tersebut berpotensi besar mengidap virus flu burung dari burung-burung liar atau sumber air di sekitar yang sudah terkontaminasi virus. Meski begitu, bukan berarti seseorang tidak boleh sama sekali memelihara burung atau ayam.
"Jikapun ingin memelihara ayam atau burung, jaga kesehatannya. Perhatikan kebersihan lingkungan dan pastikan hewan peliharaan mendapat vaksinasi," tuturnya.
Baca juga: Kasus Flu Burung Meningkat, Ditengarai karena El Nino (mrs/vit)










































