"Setelah ini perlu dilakukan sosialisasi yang benar, tingkatkan pelayanan dan tidak boleh menolak pasien dari luar Banyumas atau luar Provinsi Jawa Tengah," kata Ganjar Pranowo dalam sambutannya saat meresmikan Gedung Pelayanan Thalassemia Terpadu, Kamis (19/5/2016).
Penyakit thalassemia adalah penyakit kelainan darah yang diakibatkan oleh faktor genetika dan menyebabkan protein yang ada di dalam sel darah merah hemoglobin tidak berfungsi secara normal. Akibatnya pasien harus melakukan transfusi darah seumur hidupnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Usulan ada perda thalassemia tentang kewajiban pengecekan thalassemia bagi pasangan yang akan menikah," jelasnya.
Baca juga: Penyakit Ini Berpotensi 'Menghalangi' Pernikahan
Usulan membuat perda untuk pasien thalassemia tersebut disambut baik oleh Ruswandi, Ketua Yayasan Thalassemia Indonesia yang ikut menghadiri peresmian tersebut. Menurut dia perda tersebut pernah dilakukan di negara lain dan sampai sekarang masih dilakukan di Siprus.
"Perda itu paling bagus, seperti yang dilakukan di Siprus, jadi setiap yang akan menikah itu ditanya ada sertifikat thalasemia tidak, kalau belum ada mereka tidak akan melangsungkan pernikahan, mereka harus dicek darahnya dulu," jelasnya.
Namun yang paling utama dan penting sebenarnya adalah memahami apa itu thalassemia dengan melakukan sosialisasi agar masyarakat mengerti apa itu thalassemia. Apalagi saat ini jumlah pasien thalassemia sudah mencapai 7.238 se-Indonesia atau naik 10 persen dari tahun ke tahun.
"Itu yang tercatat, di luar data kami mungkin lebih dari itu, karena di kampung-kampung banyak yang tidak mengerti sakit apa yang diderita. Ini kan kalau didiemin mereka akan meninggal karena darahnya habis," ujarnya
Baca juga: Darah yang Hilang Hanya Bisa Diganti oleh Darah
Pembangunan Gedung Pelayanan Thalassemia Terpadu di RSUD Banyumas ini, menurut dia saat ini yang terbaik se Indonesia, karena memiliki fasilitas yang memadai.
"Ini nomor satu di Banyumas dan seluruh Indonesia. Paling baik karena punya gedung sendiri, dan terpisah dari rumah sakit karena tempat lain semuanya jadi satu dengan rumah sakit. Jadi tinggal pelayananya saja nanti yang perlu ditingkatkan. Fasilitas bagus dan buat pasien cukup nyaman," ujarnya.
Dia mengungkapkan pelayanan terhadap pasien thalassemia harus dibuat nyaman, karena seumur hidupnya akan terus tergantung pada kebutuhan darah. Dengan demikian pelayanan dan kenyamanan mereka harus dinomor satukan.
"Untuk pasien thalasemia itu hanya dua kemudahan dan kenyamanan, masalahnya sampai sekarang obatnya belum ada, jadi setiap bulan mereka harus datang ke rumah sakit seumur hidupnya, yang kedua kemudahan dari manajemen RS, kalau bisa semua bisa dilakukan di sini, jangan sampai antre ke mana-mana, masa dia seumur hidup antre tega apa?" tuturnya.
Sementara menurut Direktur RSUD Banyumas AR Siswanto mengatakan jika saat ini sudah ada sekitar 270 pasien thalassemia yang sudah dijadwal melakukan transfusi darah. Bahkan kebutuhan darah setiap bulannya mencapai 1.000 kantong darah.
"Ada 270 pasien yang sudah dijadwalkan, jadi kalau sudah ada gejala anemia mereka tinggal datang saja. Rata-rata yang datang bukan hanya dari Banyumas tapi dari Kebumen, Brebes dan Ciamis," ucapnya.
Dia mengungkapkan pelayanan terpadu yang diberikan untuk pasien thalasemia agar keluarga pasien nantinya tidak perlu pergi untuk mencari-cari darah untuk kebutuhan transfusi. Karena semuanya sudah disiapkan di gedung ini.
"Yang penting ada ketersediaan darah kemudian ada tempat yang nyaman, untuk ketersediaan darah sendiri kita kerjasama denga PMI, tapi sudah diambil di sini jadi sudah dilayani di sini lengkap dan keluarga tidak perlu lari-lari cari darah," tegasnya.
(arb/vit)











































