Hal ini dipastikan dalam sebuah studi yang dilakukan tim peneliti gabungan dari University of Colorado Boulder dan University College London baru-baru ini. Dari studi tersebut, peneliti menemukan peranan sebuah bakteri bernama Mycobacterium vaccae, yang ternyata dapat meredakan stres.
Hanya saja Mycobacterium vaccae hanya dapat ditemukan dengan mudah di dalam tanah, sedangkan masyarakat modern saat ini lebih banyak beraktivitas di dalam ruangan sehingga mencegah mereka untuk terpapar bakteri ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Akibat Terlalu Bersih, Manusia Kini Lebih Rentan Alergi
Peneliti telah membuktikan 'khasiatnya' lewat percobaan dengan tikus yang disuntik dengan Mycobacterium vaccae. Tikus yang disuntik bakteri ini dilaporkan lebih mampu mengatasi tekanan ketika diletakkan di dalam kandang bersama tikus pejantan yang dominan. Di sisi lain, mereka juga tidak terlalu subsimif atau penurut dan cenderung selalu ingin tahu.
Namun tikus yang disuntik bakteri ini juga tidak rentan mengalami gangguan cerna. "Temuan ini memperkuat dugaan bahwa gangguan kesehatan yang berkaitan dengan stres, termasuk PTSD sebenarnya dipicu oleh adanya kesalahan pada sistem imun sehingga menghasilkan inflamasi yang bisa merusak sebagian besar fungsi organ," terang peneliti dari UCL, Prof Graham Rook.
Sedangkan keberadaan Mycobacterium vaccae ini dapat meredam respons imun tersebut. Sayangnya, tambah Rook, setelah berevolusi, manusia menjadi kurang berinteraksi dengan mikroorganisme yang penting untuk sistem kekebalannya. Begitu pula dengan pola makannya yang cenderung kurang nutrisi sehingga mengubah susunan bakteri dalam usus. Akibatnya risiko berbagai penyakit yang menyerang fisik maupun mental bermunculan.
"Jadi, memang sekali-kali kita harus kotor-kotoran untuk bisa merasakan manfaat ini," tutup Rook seperti dilaporkan Daily Mail.
Baca juga: Cuci Piring dengan Tangan Kurangi Risiko Alergi pada Anak (lll/vit)











































