Bungkus polos diterapkan dengan satu warna standar untuk seluruh merek dan nama merek ditulis kecil. Gambar seram dampak rokok menutupi hampir setengah atau lebih dari permukaan bungkus.
Benn McGrady dari WHO mengatakan tujuan diterapkannya desain tersebut adalah untuk menghilangkan keglamoran dari rokok sehingga orang-orang makin malas mencoba. Data di Australia setidak setelah bungkus polos diterapkan pada tahun 2012 tingkat rokoknya semakin berkurang sebanyak 0,55 persen atau setara dengan 108 ribu orang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami pikir bukti yang ada begitu kuat sehingga kemungkinan kita akan menyaksikan globalisasi dari kemasan polos ini, terutama setelah negara-negara yang berpengaruh seperti Inggris, Prancis, dan Australia telah menerapkannya," kata McGrady seperti dikutip dari BBC, Kamis (2/6/2016).
"Ada gerakan penolakan kuat dari perusahaan rokok, semuanya menolak karena ini akan mengurangi prevalensi penggunaan tembakau. Kita sedang berada di titik puncak sesuatu yang besar dan ini akan berdampak signifikan terhadap kesehatan masyarakat," lanjutnya.
Untuk Indonesia sendiri Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) Ditjen P2P Kemenkes RI dr Lily S Sulistyowati mengatakan pihaknya sudah mendorong agar penerapan bungkus polos disiapkan.
"Kita opitimistis punya peluang itu dan kita akan mulai ibaratnya nggak perlu takut harus memulainya. Kita mulai dorong teman-teman utamanya dari sisi hukum ya," kata Lily.
Baca juga: Peluang Indonesia Terapkan Plain Packaging pada Bungkus Rokok (fds/vit)











































