Masalah Sampah Tak Kunjung Usai, Angola Terancam Wabah Kolera dan Pes

Masalah Sampah Tak Kunjung Usai, Angola Terancam Wabah Kolera dan Pes

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Kamis, 16 Jun 2016 10:10 WIB
Masalah Sampah Tak Kunjung Usai, Angola Terancam Wabah Kolera dan Pes
ilustrasi sampah dekat pemukiman penduduk (Foto: Bisma/detikcom)
Jakarta - Wabah demam kuning di Angola sudah menginfeksi setidaknya 3.000 orang dengan 325 di antaranya meninggal dunia. Jika dirunut ke belakang, wabah demam kuning bermula dari masalah pengelolaan sampah yang tidak baik.

Demam kuning mulai mewabah di Angola sejak akhir tahun 2015 lalu. Pakar mengatakan buruknya sanitasi dan pengaturan sampah menjadi alasan banyaknya nyamuk yang menjadi vektor penyebaran penyakit ini. Di sisi lain, pihak swasta yang mengelola sampah dan sanitasi mengaku tidak mendapat bayaran beberapa bulan terakhir. Hal ini membuat mereka tidak bisa bekerja. Apalagi kondisi perekonomian Angola juga sedang tidak baik.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah distrik Viana, di mana kasus pertama demam kuning ditemukan. Diketahui daerah ini merupakan daerah pinggir kota Luanda yang menjadi tempat pembuangan sampah sementara bagi masyarakat perkotaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Dokumen Vaksinasi Palsu Jadi Biang Keladi Wabah Demam Kuning di Angola

"Situasinya sekarang sangat buruk. Sampah bertebaran di mana0mana dan menjadi tempat berkumpulnya lalat dan tikus, dan dapat menyebarkan pes dan kolera. Ditambah, saat ini kami sedang kewalahan menghadapi demam kuning," tutur Francisco Sondane, dokter dari program UNICEF di Angola, dikutip dari Reuters.

Berdasarkan data sementara, sekitar 3.000 orang sudah meninggal akibat malaria di tahun 2016. Sondane mengatakan bisa jadi tahun ini lebih buruk dari tahun sebelumnya, di mana angka kematian total tidak mencapai 8.000 orang.

Sementara itu, penyakit yang ditularkan oleh lalat, namuk dan tikus seperti kolera, demam tifoid dan pes masih menjadi ancaman. Sampah-sampah tidak hanya menumpuk di daerah pemukimanm namun juga menyebabkan bau tidak sedap yang muncul di gedung-gedung pusat kota.

Duane Gubler peneliti sekaligus pakar penyakit bersumber nyamuk dari Duke-NUS Medical School, mengatakan wabah demam kuning di Angola seperti bom waktu. Jika tak ditangani dengan serius, besar kemungkinan penyakit ini bisa membuat kepanikan seperti Ebola yang melanda kawasan Afrika Barat.

"Wabah ini memiliki potensi untuk menjadi ancaman bagi dunia kesehatan. Sayangnya, belum ada tindakan maksimal yang dilakukan," tutur Gubler.

Baca juga: 5 Hal Penting yang Harus Diketahui Soal Penyakit Demam Kuning (mrs/vit)

Berita Terkait