Lantas apakah mereka boleh berpuasa? "Boleh berpuasa, tapi justru disini tantangannya," ungkap dr Duddy Mulyawan Djajadisastra, SpPD, FINASIM.
Sebab, pengaturan makannya pun tak bisa sembarangan. Seperti yang dikisahkan member detikForum dengan nick name 'rina.kusuma'. Ia mengeluh tahun lalu tak bisa berpuasa sama sekali. Bahkan dokter mewajibkannya makan tiap 4 jam sekali, sedikit namun sering.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diakui dr Duddy, pada kasus-kasus tertentu, dokter akan memaksa pasiennya untuk tidak berpuasa dengan alasan kesehatan. "Kalau dokter menyarankan untuk makan sering dan sedikit, berarti bisa jadi produksi asam lambungnya memang berlebihan," tegasnya.
Baca juga: Hati-hati Asam Lambung Naik ke Kerongkongan Usai Pesta Kambing
Pasien hanya perlu menuruti anjuran dokter demi kebaikannya sendiri. Kalaupun terjadi kekambuhan setelah sekian lama, lanjut dr Duddy, GERD sendiri sebenarnya tidak semata-mata dipicu oleh produksi asam lambung berlebih atau makanan, apalagi mungkin jika pasien sudah mematuhi aturan makan yang ada.
"Kalau begitu masalahnya apa? Ya stres, alias peningkatan produksi asam lambung yang dipicu oleh pikiran. Kalau nggak merasa stres, bagaimana? Berarti harus ada insight yang cukup baik. Biasanya dengan berpuasa, kita menjadi lebih pasrah dan produksi lambungnya pun berkurang," paparnya.
Kunci lainnya adalah mengatur agar konsumsi makanannya tidak berlebihan dan pilih makanan yang lebih 'plain' atau tidak berbumbu. "Dan yang terpenting, jangan berbaring setelah makan," jelasnya.
Yang tak boleh dilupakan adalah jumlah cairan yang dikonsumsi bersama makanan dipastikan tak boleh lebih dari 500 cc, misalnya bila berbuka pada jam 17.47 WIB, maka konsumsi air sampai jam 19.47 WIB cukuplah 500 cc saja.
"Sudah barang tentu, di waktu berikutnya bisa ditambahkan secara bertahap, sampai ketemu batas yang pas," tutupnya.
Baca juga: Sering Muntah Saat Puasa? Waspadai Penyakit Ini (lll/vit)











































