dr Errawan Wiradisuria, SpB KBD, M Kes dari Rumah Sakit Mayapada Lebak Bulus menuturkan, dalam prosedur sedot lemak, lemak yang disedot tidak sampai 1 kg. Karena itu bagi mereka yang obesitas harus menjalani prosedur ini berkali-kali.
"Sedot lemak itu sifatnya kosmetik. Jadi kalau orang berat badannya 120 kg, mau berapa kali disedot lemaknya atau mau berapa ribu kali dibius," kata dr Errawan dalam seminar 'Bedah Bariatrik dengan 8 Multidisiplin Ilmu yang pertama di Indonesia' di Rumah Sakit Mayapada, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Setelah Jalani Operasi Bariatrik, Pasien Harus Makan Secara Bertahap
"Sedot lemak itu bukan cara yang benar untuk menurunkan berat badan. Jadi paradigma di masyarakat harus diubah," sambungnya.
Nah, cara lain yang bisa dilakukan untuk menurunkan berat badan adalah dengan operasi bariatrik. Tapi ini juga tidak bisa dilakukan sembarangan. Karena hanya pasien dengan kategori obesitas morbid (sangat gemuk) atau yang memiliki indeks massa tubuh di atas 30 yang diperbolehkan menjalaninya.
"Jadi jika pasien telah melakukan diet, menerapkan pola hidup sehat, dan olaharga namun hasilnya belum memuaskan, barulah operasi bariatrik dilakukan," kata dr Errawan.
Syarat lain untuk menjalani operasi bariatrik adalah berusia 15-60 tahun. Hal tersebut untuk menghindari dampak yang tidak diinginkan karena operasi termasuk termasuk tindakan yang berisiko, meskipun bariatrik tergolong aman. Dokter pun akan berusaha meminimalkan risikonya.
Baca juga: Yang Perlu Anda Tahu tentang Operasi Bariatrik untuk Turunkan Berat Badan (vit/vit)











































