Tak Gunakan Istilah Stadium, Ini 3 Fase Chronic Myeloid Leukemia

Tak Gunakan Istilah Stadium, Ini 3 Fase Chronic Myeloid Leukemia

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Jumat, 23 Sep 2016 12:03 WIB
Tak Gunakan Istilah Stadium, Ini 3 Fase Chronic Myeloid Leukemia
Foto: thinkstock
Jakarta - Untuk menunjukkan tingkat keparahan Chronic Myeloid Leukemia (CML) atau dalam bahasa Indonesia disebut Leukemia Granulositik Kronik (LGK), tidak digunakan istilah stadium, melainkan fase. Nah, pada CML terdapat tiga fase.

Diungkapkan ahli hematologi onkologi medik RS Kanker Dharmais, dr Hilman Tadjoedin SpPD, KHOM, terdapat 3 fase CML yakni fase kronis, akselerasi, dan krisis blastik. Pada fase krisis blastik, jika tidak ditangani dengan benar bisa berlanjut pada fase leukemia akut.

"Pada fase kronis penampilan pasiennya biasa-biasa aja. Cuma sudah ada gangguan-gangguan misalnya di darah, sel darah putihnya tinggi, trombositnya tinggi, Hb-nya turun," kata dr Hilman usai diskusi media SEHATi Bersama di Rock Hall, Fx Sudirman, Jakarta, Kamis (22/9/2016).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Harusnya, pada fase kronis pasien sudah terdiagnosis CML. Apalagi jika si pasien cukup peduli sehingga ketika dirasa ada gejala atau gangguan, maka dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Nah, pada fase akselerasi, kondisi tubuh pasien lebih rentan, salah satunya ia jadi mudah demam.

dr Hilman mengatakan, fase akselerasi merupakan daerah perantara atau area kelabu. Memang tidak ada gejala persis yang dirasakan pada fase ini. Tetapi, berkali-kali dokter akan meminta pasien untuk melakukan check and recheck melalui pemeriksaan darah.

"Pada fase krisis blastik, itu sudah lebih parah lagi. Jumlah sel darah putihnya lebih tinggi lagi, banyak sekali sel-sel muda sedangkan sel-sel yang matang sedikit. Fase ini kalau nggak ditangani bisa jadi fase akut," lanjut dr Hilman.

Pada fase leukemia akut, lemahnya daya tahan tubuh hingga mudah terjadi infeksi menjadi salah satu faktor meningkatnya risiko pasien meninggal dunia.

Baca juga: Tak Ada Gejala Khas, Ini Saran Dokter Agar CML Tak Telat Ditangani

Saat CML memasuki fase krisis blastik, kondisi tubuh pasien jadi lebih rentan infeksi dan lemas. Seolah-olah, si pasien sebentar-sebentar sakit misalnya sering kena flu. Lalu perutnya makin begah, makin kurus, demam lebih sering muncul, dan pastinya kadar sel darah putihnya pun makin banyak.

"Seringkali pasien ini telat ditangani karena mikir ah nggak apa-apa, nggak usah diperiksa. Banyak sekali faktor denial, belum lagi usaha pasien untuk mengobati penyakitnya sendiri," kata dr Hilman.

Dokter berkacamata ini menekankan, konsumsi obat CML bersifat seumur hidup meskipun pasien sudah dinyatan undetected. Di mana jumlah protein Bcr-Abl sudah di bawah 0,0032 persen di tubuhnya. Berkaca dari pengalamannya, dr Hilman mengungkapkan ada seorang pasien yang sudah patuh berobat selama 2 tahun dan ia sudah masuk kategori undetected.

Namun, 2 tahun kemudian si pasien menghilang entah ke mana. Ketika kembali lagi, kadar protein Bcr-Abl-nya pun meningkat kembali. Sehingga, ditekankan dr Hilman memang pengobatan CML tak bisa dihentikan. Untuk dosis obat yang digunakan tergantung pada kondisi masing-masing pasien.

Baca juga: Perut Begah dan Mengira Masuk Angin, Andrian Ternyata Kena CML

(rdn/up)

Berita Terkait