Andrian sempat menganggap begah yang dirasakan akibat mag yang diidapnya. Ia pun periksa ke dokter dan disebut mengalami infeksi usus. Setelah disarankan cek labaoratorium, diketahui kadar leukosit Andrian tinggi, mencapai 79 ribu/mm3.
"Saat itu saya biasa aja. Saya bekam, akupresur dan biasanya setelah itu saya segeran kok ini nggak. Akhirnya saya konsul ke teman yang kebetulan dokter, dia lihat hasil lab saya tapi dia kayak tau saya CML cuma diam. Akhirnya saya lakukan tes SADT atau Sediaan Apus Darah Tepi dan di situlah saya suspect CML," kisah Andrian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awal-awal didiagnosis CML, Andrian sempat menjalani pengobatan alternatif tapi setelah seminggu menjalaninya, ia lantas sadar bahwa apa yang dilakukannya keliru. Ia pun rutin konsumsi obat 400 mg sekali minum. Saat mengonsumsi obat, efek samping pun ia rasakan.
Baca juga: Tak Ada Gejala Khas, Ini Saran Dokter Agar CML Tak Telat Ditangani
"Untuk antisipasi mual, saya habis makan malam baru minum obat terus biar nggak pusing atau mual, tidur. Jadilah badan saya gemuk gini. Paling nggak enak kalau tiba-tiba kram otot. Tapi ya dinikmati aja. Nanti kan juga hilang sendiri," tambah pria berkacamata ini.
Hingga di tahun 2014, ia dinyatakan undetected di mana protein Bcr-Acl sudah tidak terdeteksi lagi. Namun, Andrian tetap mengonsumsi obat sampai sekarang. Saat ini, dosen di salah satu Perguruan Tinggi di Bandung itu menjalani hidupnya seperti biasa. Tidak ada makanan yang dipantang meski tetap dalam batasan normal.
Andrian juga rutin olahraga lima kali seminggu. Hal itu ia lakukan untuk menurunkan bobotnya. Tapi, ia tak menargetkan kurus karena yang terpenting baginya adalah ia tetap sehat, bebas dari CML, dan tetap bugar.
Curhat Andrian sebagai pasien CML
Saat ini, Andrian menjabat Sekjen Himpunan Masyarakat Peduli Leukemia dan GIST (ELGEKA). Dalam peringatan haris CML Sedunia yang diperingati tiap 22 September, Andrian berharap pasien CML di Indonesia bisa mendapat akses perawatan yg mudah. Bukan sekadar obat, tapi juga keberadaan dokter.
"Jumlah dokter ahli kanker darah masih 120 orang dan sebagian besar di Jawa dan Bali bagaimana kabar teman di Papua. Ada teman kami tinggal di Jayapura, Aceh, harus akses obat ke Jawa," kata Andrian.
Selain itu, ia berharap bisa tersedia alat diagnosis yang berskala internasional dan berkualitas tinggi. Sebab, belum semua RS di Indonesia memiliki alat diagnosis dan monitoring CML. Ia juga menyinggung jaminan ketersediaan obat. Berkaca pada tahun 2011, selama 3 bulan tidak tersedia obat hingga 25 orang meninggal dunia, demikian dikatakan Andrian.
Ia juga berharap edukasi dan informasi tentang CML gencar diberi ke masyarakat. Ia mencontohkan apa yang selama ini digambarkan di film atau sinetron ketika didiagnosis kanker darah, lalu besoknya menjalani kemoterapi dan tak lama meninggal, itu adalah hal yang mengerikan.
"CML adalah leukemia tapi kita masih bisa hidup bahagia. Kalau CML ditangani dengan perawatan efektif sesuai yang direkomendasikan, pasien CML punya harapan hidup sama dengan orang lain. Sembuh dari kanker dan menikmati kualitas hidup yang baik adalah dua hak dasar bagi setiap orang," pungkas Andrian.
Baca juga: Langka dan Berbahaya, Apa Sih Penyebab CML? (rdn/up)











































