Perut Begah dan Mengira Masuk Angin, Andrian Ternyata Kena CML

True Story

Perut Begah dan Mengira Masuk Angin, Andrian Ternyata Kena CML

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Kamis, 22 Sep 2016 19:35 WIB
Perut Begah dan Mengira Masuk Angin, Andrian Ternyata Kena CML
Foto: Radian Nyi Sukmasari
Jakarta - Di tahun 2011, Andrian Rahmansyah (39) merasa tubuhnya seperti masuk angin. Kemudian, perutnya pun membuncit meski sebenarnya, tubuh Andrian tak terlalu gemuk. Siapa sangka, itulah mulanya ia didiagnosis Chronic Myeloid Leukemia (CML) atau dalam bahasa Indonesia disebut Leukemia Granulositik Kronik (LGK).

Andrian sempat menganggap begah yang dirasakan akibat mag yang diidapnya. Ia pun periksa ke dokter dan disebut mengalami infeksi usus. Setelah disarankan cek labaoratorium, diketahui kadar leukosit Andrian tinggi, mencapai 79 ribu/mm3.

"Saat itu saya biasa aja. Saya bekam, akupresur dan biasanya setelah itu saya segeran kok ini nggak. Akhirnya saya konsul ke teman yang kebetulan dokter, dia lihat hasil lab saya tapi dia kayak tau saya CML cuma diam. Akhirnya saya lakukan tes SADT atau Sediaan Apus Darah Tepi dan di situlah saya suspect CML," kisah Andrian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal itu ia sampaikan di sela-sela diskusi media SEHATi Bersama di Rock Hall, Fx Sudirman, Jakarta, Kamis (22/9/2016). Setelah didiagnosis CML, Andrian pun harus konsumsi obat yang harganya tak murah, mencapai Rp 30 juta per bulan. Tapi dengan bantuan berbagai pihak seperti Yayasan Kanker Indonesia (YKI) dan dengan adanya program JKN seperti saat ini, biaya pengobatan bisa terbantu.

Awal-awal didiagnosis CML, Andrian sempat menjalani pengobatan alternatif tapi setelah seminggu menjalaninya, ia lantas sadar bahwa apa yang dilakukannya keliru. Ia pun rutin konsumsi obat 400 mg sekali minum. Saat mengonsumsi obat, efek samping pun ia rasakan.

Baca juga: Tak Ada Gejala Khas, Ini Saran Dokter Agar CML Tak Telat Ditangani

"Untuk antisipasi mual, saya habis makan malam baru minum obat terus biar nggak pusing atau mual, tidur. Jadilah badan saya gemuk gini. Paling nggak enak kalau tiba-tiba kram otot. Tapi ya dinikmati aja. Nanti kan juga hilang sendiri," tambah pria berkacamata ini.

Hingga di tahun 2014, ia dinyatakan undetected di mana protein Bcr-Acl sudah tidak terdeteksi lagi. Namun, Andrian tetap mengonsumsi obat sampai sekarang. Saat ini, dosen di salah satu Perguruan Tinggi di Bandung itu menjalani hidupnya seperti biasa. Tidak ada makanan yang dipantang meski tetap dalam batasan normal.

Andrian juga rutin olahraga lima kali seminggu. Hal itu ia lakukan untuk menurunkan bobotnya. Tapi, ia tak menargetkan kurus karena yang terpenting baginya adalah ia tetap sehat, bebas dari CML, dan tetap bugar.

Curhat Andrian sebagai pasien CML

Saat ini, Andrian menjabat Sekjen Himpunan Masyarakat Peduli Leukemia dan GIST (ELGEKA). Dalam peringatan haris CML Sedunia yang diperingati tiap 22 September, Andrian berharap pasien CML di Indonesia bisa mendapat akses perawatan yg mudah. Bukan sekadar obat, tapi juga keberadaan dokter.

"Jumlah dokter ahli kanker darah masih 120 orang dan sebagian besar di Jawa dan Bali bagaimana kabar teman di Papua. Ada teman kami tinggal di Jayapura, Aceh, harus akses obat ke Jawa," kata Andrian.

Selain itu, ia berharap bisa tersedia alat diagnosis yang berskala internasional dan berkualitas tinggi. Sebab, belum semua RS di Indonesia memiliki alat diagnosis dan monitoring CML. Ia juga menyinggung jaminan ketersediaan obat. Berkaca pada tahun 2011, selama 3 bulan tidak tersedia obat hingga 25 orang meninggal dunia, demikian dikatakan Andrian.

Ia juga berharap edukasi dan informasi tentang CML gencar diberi ke masyarakat. Ia mencontohkan apa yang selama ini digambarkan di film atau sinetron ketika didiagnosis kanker darah, lalu besoknya menjalani kemoterapi dan tak lama meninggal, itu adalah hal yang mengerikan.

"CML adalah leukemia tapi kita masih bisa hidup bahagia. Kalau CML ditangani dengan perawatan efektif sesuai yang direkomendasikan, pasien CML punya harapan hidup sama dengan orang lain. Sembuh dari kanker dan menikmati kualitas hidup yang baik adalah dua hak dasar bagi setiap orang," pungkas Andrian.

Baca juga: Langka dan Berbahaya, Apa Sih Penyebab CML? (rdn/up)

Berita Terkait