Tidurnya Cuma Sekejap, Begini Cara 'Short Sleeper' Tetap Berfungsi Normal

Tidurnya Cuma Sekejap, Begini Cara 'Short Sleeper' Tetap Berfungsi Normal

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Jumat, 23 Sep 2016 16:05 WIB
Tidurnya Cuma Sekejap, Begini Cara Short Sleeper Tetap Berfungsi Normal
Foto: thinkstock
Jakarta - Idealnya, setiap orang harus tidur selama 7-9 jam tiap harinya. Tetapi ada orang-orang yang tidak butuh tidur selama itu namun tetap berfungsi seperti biasa. Mereka biasa disebut sebagai 'short sleeper'.

Cirinya, mereka hanya perlu tidur selama 4-6 jam semalam. Centers for Disease Control and Prevention mencatat dalam suatu populasi biasanya terdapat 30 persen short sleeper.

Pada orang biasa, mereka yang kurang tidur akan merasa gelisah, sering ketiduran, bahkan bila dibiarkan berlarut-larut ini bisa berisiko tinggi mengalami kondisi seperti diabetes tipe 2, depresi, obesitas dan kanker tertentu. Tetapi hal ini tidak ditemukan pada short sleeper.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peneliti kemudian tertarik untuk mengamati otak short sleeper karena tidur berperan penting terhadap kinerja organ tersebut, semisal membentuk memori jangka pendek maupun panjang, termasuk menyimpannya.

Pengamatan dilakukan terhadap 1.200 partisipan yang diminta tidur namun otak mereka dipindai dengan functional magnetic resonance imagine (fMRI). Dari situ peneliti membagi partisipan menjadi kelompok yang tidur lebih dari enam jam dan kurang dari enam jam.

Pada kelompok yang tidur kurang dari enam jam dibagi lagi menjadi dua kelompok: mereka yang terlalu mengantuk untuk melakukan tugas sehari-hari atau kesulitan untuk memperlihatkan antusiasme dan mereka yang merasa tetap berfungsi dengan normal.

Baca juga: Dampaknya Bisa Serius, Yuk Jangan Biasakan Menunda Tidur Malam

Menariknya, peneliti melihat, pada mereka yang jam tidurnya di bawah enam jam dan tetap berfungsi normal memiliki 'konektivitas yang lebih baik' pada bagian-bagian otak tertentu, terutama pada bagian yang memproses informasi sensorik dan daya ingat, yaitu hippocampus.

"Bisa jadi otak short sleeper masih tetap bisa melakukan pembentukan dan penyimpanan memori saat terjaga sekalipun," simpul salah satu peneliti Jeff Anderson dari University of Utah seperti dilaporkan Medical Daily.

Meski begitu, Anderson menuding short sleeper juga kerap ketiduran tanpa mereka sadari. Misalkan saat meeting atau dalam perjalanan, semisal ketika naik bis atau subway, namun bagi mereka itu sudah cukup membantu memenuhi kebutuhan tidur mereka.

Baca juga: Karyawan Kurang Kreatif? Mungkin Kurang Tidur Penyebabnya

Mungkin ada benarnya jika otak short sleeper mempunyai koneksi yang lebih baik. Buktinya, sejumlah tokoh sukses dunia rata-rata hanya tidur beberapa jam dalam sehari. Sederet di antaranya adalah mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher (4 jam/malam); Donald Trump (3-4 jam); Leonardo da Vinci (2 jam), Thomas Alva Edison (4-5 jam), dan Barack Obama (4 jam).

Menanggapi hal ini, Dr Barry Krakow, penulis buku 'Sound Sleep, Sound Mind: 7 Keys to Sleeping Through The Night' meyakini short sleeper memang ada, tetapi secara umum hal ini tidak sepenuhnya benar, sebab mereka yang kurang tidur biasanya menggunakan kompensasi semisal mengonsumsi banyak kafein.

"Edison mungkin juga kurang tidur, tetapi sebenarnya ia sering sekali tidur siang. Begitu pula dengan Winston Churchill, Ronald Reagan, John F Kennedy dan Napoleon yang merem sebentar di sore hari agar bisa terjaga semalaman," ungkapnya. (lll/up)

Berita Terkait