Terobosan baru pun dibuat oleh Australian National University (ANU) dan sejumlah peneliti dari Prancis, yaitu dengan menggunakan tes darah.
Menurut salah satu peneliti, Dr Illa Tea, bila diamati dengan seksama, sampel darah dari jaringan tubuh tertentu dapat memperlihatkan isotop bernama carbon-13 dan nitrogen-15 dalam proporsi tertentu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harapannya, ke depan kami bisa mengembangkan aplikasi klinis yang dapat mendeteksi perubahan proporsi isotop yang muncul dalam darah dan mengindikasikan adanya kanker," kata Tea seperti dilaporkan ABC Australia.
Ketua tim peneliti, Prof Guillaume Tcherkez menambahkan, tujuan utama mereka adalah menyelamatkan nyawa banyak orang. Dengan metode seminimal mungkin, biomarker ini dapat memberikan diagnosis lebih awal sekaligus memonitor ada tidaknya kanker payudara secara efisien.
"Tesnya juga akan lebih mudah dan tidak begitu invasif bila dibandingkan tes lain seperti biopsi," timpalnya.
Baca juga: Deteksi Dini Kanker Payudara Juga Bisa Deteksi Masalah Jantung
Meski begitu, Tcherkez mengatakan tesnya mungkin baru bisa dilakukan dalam 10 tahun ke depan, sebab ini adalah waktu minimal yang dibutuhkan peneliti untuk membuktikan teori mereka terkait tes ini.
Akan tetapi bila nantinya sudah tersedia, tes ini dapat digunakan sebagai alternatif dari metode deteksi yang lebih invasif, termasuk mamogram.
Tes darah bisa jadi cara terbaik untuk menentukan apakah seseorang terinfeksi virus maupun bakteri. Tetapi untuk kanker, tes darah saja belum cukup untuk mendeteksi kanker yang ada dalam diri seseorang.
Sebelumnya peneliti dari Inggris juga mengungkapkan, tes darah rutin dapat membantu mendeteksi risiko kanker ovarium. Dan bila kanker ini terdeteksi secepatnya, maka tingkat prognosis pasien juga akan lebih baik, bahkan mengurangi risiko kematian akibat kanker ini.
Baca juga: 7 Langkah Mudah Cegah Kanker Payudara (lll/up)










































