Seperti halnya yang terjadi pada sepasang pebisnis asal Samoa, sebuah negara kecil di Pasifik selatan ini. Baru-baru ini keduanya melayangkan keluhan kepada otoritas transportasi di AS, US Transportation Department karena diminta untuk menimbang berat tubuhnya sebelum naik pesawat.
Saat itu mereka menggunakan maskapai Hawaiian Airlines untuk penerbangan tujuan Pago Pago, ibukota Samoa dari Honolulu, Hawaii. Mereka juga hanya diperkenankan duduk di bangku yang telah ditentukan, bukannya memilih sendiri seperti halnya penumpang lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepada kedua calon penumpang, maskapai juga mengatakan ini adalah peraturan baru, sehingga wajar jika mereka tidak mengetahuinya. Namun salah satu pebisnis yang bernama Avamua Dave Haleck telanjur marah dan merasa aturan baru itu diskriminatif dan tidak adil, sebab ternyata aturan ini hanya berlaku untuk penerbangan antara Honolulu dan Pago Pago saja.
"Tentu saja mereka bilang ini adalah isu keamanan. Jadi apakah maksud mereka selama ini penerbangan kita tidak aman begitu?" tutur Haleck kepada Radio New Zealand dan dikutip dari BBC, Kamis (6/10/2016).
Baca juga: Si Gemuk Harus Bayar Pajak Lemak
Rupanya kebijakan Hawaiian Airlines ini diberlakukan karena menurut laporan dari World Factbook milik CIA, Samoa merupakan salah satu negara dengan tingkat obesitas tertinggi di seluruh dunia, dengan 74,6 persen penduduk dewasa di sana tergolong obes. Disusul oleh Nauru (71,1 persen) dan Cook Islands (63,7 persen).
Tetapi itu adalah data yang diambil dari kurun tahun 2007-2008. Perkiraan terakhir tingkat obesitas di negara itu sudah mencapai 94 persen. NPR Radio beberapa waktu lalu melaporkan kondisi ini muncul semenjak penduduk setempat mulai menyukai makanan cepat saji 'impor' yang murah ketimbang menu makan tradisional mereka sendiri. Akibatnya 1 dari 3 penduduk Samoa juga tercatat mengidap diabetes tipe 2 karena perubahan pola makan tersebut.
Baca juga: Apartemen di Jepang Terapkan Harga Sewa Sesuai Berat Badan
Tidak dijelaskan dengan pasti bagaimana nasib kedua calon penumpang tersebut. Namun dalam 5-6 tahun terakhir, sejumlah maskapai penerbangan di AS memang telah memberlakukan kebijakan khusus untuk pelanggan dengan ukuran tubuh tertentu, semisal membeli dua tiket jika penerbangan tidak penuh. Maskapai lain juga menganjurkan penumpang membeli dua kursi jika memang kondisinya tidak memungkinkan untuk duduk di satu kursi.
Di tahun 2012, seorang mantan eksekutif Qantas juga pernah mengusulkan agar penumpang yang memiliki berat badan berlebih membayar biaya tambahan untuk setiap kilogram berat badan ekstra mereka, sebab maskapai harus membayar lebih untuk bahan bakar karena berat rata-rata penumpang menjadi naik.
"Bahan bakar tambahan membutuhkan biaya sekitar 315 poundsterling (sekitar Rp 4,5 juta) per pesawat dan penambahan berat badan penumpang dapat mempengaruhi keuntungan maskapai penerbangan," ungkap sang mantan eksekutif, Tony Webber.
Menariknya di tahun 2013, Samoa Air tercatat sebagai maskapai penerbangan pertama di dunia yang meminta calon penumpang membayar sesuai dengan berat badan mereka. Mereka dikenai harga satu tala Samoa atau setara dengan Rp 481.000 untuk setiap kilogram bobot ekstra mereka, tetapi ini belum termasuk biaya untuk bagasi lho. (lll/vit)











































