Sabtu, 08 Okt 2016 13:05 WIB

Peneliti Ini Sebut Pil KB Punya Efek Samping Tingkatkan Risiko Depresi

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: thinkstock
Jakarta - Untuk mencegah kehamilan, peranan alat kontrasepsi tak dapat diabaikan. Hanya saja kadangkala kontrasepsi jangka pendek seperti pil dapat menimbulkan efek samping yang tak diinginkan.

Seperti yang ditemukan oleh peneliti dari Denmark. Sudah sejak lama pengguna kontrasepsi hormonal mencurigai adanya efek samping dari metode tersebut. Namun baru kali ini dugaan itu terbukti.

Kebetulan dari data yang dimiliki Centers for Disease Control and Prevention di tahun 2013 tercatat, 30 persen wanita yang pernah mengonsumsi pil KB di AS pada akhirnya berhenti sama sekali karena efek samping tersebut.

Peneliti dari University of Copenhagen kemudian memastikan hal ini dengan mengamati rekam medis lebih dari satu juta wanita Denmark berusia 15-34 tahun, selama 14 tahun.

Untuk memastikan gejala depresi pada responden teridentifikasi dengan baik, peneliti mengesampingkan mereka yang sudah terdiagnosis depresi sebelum berusia 15 tahun ataupun ketika studi dimulai. Cara ini terbukti efektif, karena begitu peneliti menganalisis data yang ada, mereka menemukan keterkaitan antara penggunaan kontrasepsi hormonal dengan depresi dan juga konsumsi antidepresan pada responden.

Dalam kurun enam bulan, peneliti mencatat terjadi peningkatan risiko depresi hingga 40 persen. Responden yang mengkombinasikan beberapa jenis pil KB berpeluang 1,2 kali lebih tinggi untuk mengonsumsi antidepresan. Sedangkan mereka yang hanya meminum pil KB progestin mengalami peningkatan risiko depresi hingga 1,3 kali lebih tinggi.

Pengguna kontrasepsi hormonal non-oral juga tak luput dari risiko yang sama. Pada responden yang menggunakan koyo transdermal muncul risiko hingga dua kali lebih tinggi, dan mereka yang memakai cincin vagina berpeluang 1,5 kali lebih tinggi. Sebagian besar dari mereka juga didiagnosis dengan depresi.

Menurut peneliti, perbedaan peluang ini terjadi hanya karena perbedaan dosis yang dikandung masing-masing jenis kontrasepsi oral tersebut, bukannya bagaimana kontrasepsi itu dikonsumsi. Demikian seperti dilaporkan CNN.

Baca juga: Kriteria Wanita yang Boleh dan yang Tidak Dianjurkan Pakai Pil KB

Di sisi lain, peneliti menegaskan bahwa ini bukan berarti mengonsumsi alat kontrasepsi sudah pasti akan memicu depresi. "Depresi sendiri memang rentan muncul pada wanita di usia 20-34 tahun karena hormon mereka, jadi ketika mereka mengonsumsi hormon buatan, efeknya bisa saja sama. Tetapi kami masih harus melakukan kajian lebih mendalam untuk memastikan depresi sebagai efek samping potensial dari kontrasepsi hormonal," ungkap ketua tim peneliti, Dr √ėjvind Lidegaard.

Alat kontrasepsi sendiri sudah lama dilaporkan dapat memicu sejumlah efek samping negatif, mulai dari kram di perut, hingga risiko stroke. Namun dampak positifnya juga beragam, seperti mencegah kehamilan yang tak diinginkan, meredakan nyeri pada pinggang akibat endometriosis, mencegah munculnya jerawat serta mengurangi risiko kanker pada organ reproduksi.

Kalaupun tidak ingin merasakan efek ini, toh Anda masih bisa memilih kontrasepsi non-hormonal.

Baca juga: Penggunaan KB Suntik Cenderung Bikin Wanita Gemuk, Begini Penjelasan Dokter

(lll/vit)