Cek, Ini Dia 9 Virus Paling Mematikan di Bumi (1)

Cek, Ini Dia 9 Virus Paling Mematikan di Bumi (1)

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Rabu, 02 Nov 2016 14:52 WIB
Cek, Ini Dia 9 Virus Paling Mematikan di Bumi (1)
Foto: thinkstock
Jakarta - Perang terhadap virus sudah terjadi sejak pertama kali manusia berevoulusi. Beragam virus pun bermunculan, mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks dan sulit dilumpuhkan.

Namun keberadaan Ebola dan Zika mengingatkan kembali bahwa ada beberapa virus yang memang mematikan. Bahkan Elke Muhlberger dari Boston University mengatakan, strain Ebola yang terbaru diklaim membunuh lebih dari 90 persen orang yang terinfeksi, sehingga dianggap yang paling mematikan di antara seluruh famili virus Ebola.

"Bahkan bisa jadi lebih buruk kelak," tambahnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tetapi Ebola yang satu ini bukanlah satu-satunya virus mematikan di dunia. Setidaknya ada 9 jenis virus mematikan yang pernah terekam dalam sejarah medis, seperti dikutip dari Livescience, Rabu (2/11/2016).

Baca juga: Peneliti Ungkap Tipe Virus yang Berpotensi Picu Wabah

1. Virus Marburg virus

Foto: Ilustrasi rumah sakit/ dok.Pemkot Semarang
Virus ini ditemukan pada tahun 1967 ketika terjadi wabah kecil di sebuah lab di Jerman. Para laboran tertular dari monyet-monyet Uganda yang terinfeksi virus ini. Gejalanya mirip dengan Ebola yaitu demam tinggi dan pendarahan di sekujur tubuh yang dapat mengakibatkan syok, gagal organ hingga kematian.

Pada saat wabah pertama kali terjadi, tingkat kematian penderitanya hanya 25 persen, namun pada puncaknya terjadi di Kongo dalam kurun tahun 1998-2000, yaitu lebih dari 80 persen pasien meninggal akibat virus ini. Begitu juga dengan wabah yang terjadi di Angola pada tahun 2005.

2. Virus Ebola

Foto: thinkstock
Wabah Ebola pertama kali ditemukan di Sudan dan Kongo pada tahun 1976. Strainnya sangat bervariasi, misalkan strain Ebola Reston tidak memicu gejala, sedangkan strain Bundibugyo memiliki tingkat kefatalan hingga 50 persen lebih. Dari data WHO juga terungkap tingkat kefatalan untuk strain Sudan mencapai 71 persen.

Meski demikian WHO mengungkapkan wabah terburuk terjadi di Afrika Barat pada awal 2014 lalu, dan termasuk yang terbesar sepanjang sejarah virus ini.

3. Rabies

Foto: Ilustrasi vaksinasi rabies (Rahma Lillahi Sativa/detikHealth)
Di Barat, rabies sudah tergolong langka, tetapi penyakit ini masih memicu masalah di India dan sebagian Afrika. "Virusnya bisa merusak otak, jika penanganan tidak segera diberikan. Kemungkinan untuk meninggal bisa sampai 100 persen," ungkap Muhlberger.

4. HIV

Foto: Internet / Quartz
Sejak pertama kali ditemukan di tahun 1980-an, diperkirakan sudah ada 36 juta orang yang meninggal akibat virus ini. Bahkan masih tergolong penyakit yang sulit disembuhkan, apalagi pasien harus bergantung pada obat untuk seumur hidupnya.

Virus ini masih banyak ditemukan di negara berpendapatan rendah dan sedang di mana 95 persen kasus baru juga terjadi.

5. Cacar air

Foto: ilustrasi/thinkstock
Cacar air sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan akhirnya di tahun 1980, penyakit ini sempat dilaporkan musnah. Saat ini cacar air versi baru muncul dan mengakibatkan 1 dari 3 pasien meninggal karenanya, dengan penyintas mengalami berbagai efek samping yang buruk seperti kebutaan.

Tingkat kefatalan tertingginya saat ini ada di populasi di luar Eropa meski ahli sejarah mengatakan ini terjadi karena dulunya mereka tertular oleh para penjelajah Eropa yang tak sengaja membawa virus ini. Di masa modern, cacar air diperkirakan telah membunuh 300 juta orang.

Halaman 2 dari 6
Virus ini ditemukan pada tahun 1967 ketika terjadi wabah kecil di sebuah lab di Jerman. Para laboran tertular dari monyet-monyet Uganda yang terinfeksi virus ini. Gejalanya mirip dengan Ebola yaitu demam tinggi dan pendarahan di sekujur tubuh yang dapat mengakibatkan syok, gagal organ hingga kematian.

Pada saat wabah pertama kali terjadi, tingkat kematian penderitanya hanya 25 persen, namun pada puncaknya terjadi di Kongo dalam kurun tahun 1998-2000, yaitu lebih dari 80 persen pasien meninggal akibat virus ini. Begitu juga dengan wabah yang terjadi di Angola pada tahun 2005.

Wabah Ebola pertama kali ditemukan di Sudan dan Kongo pada tahun 1976. Strainnya sangat bervariasi, misalkan strain Ebola Reston tidak memicu gejala, sedangkan strain Bundibugyo memiliki tingkat kefatalan hingga 50 persen lebih. Dari data WHO juga terungkap tingkat kefatalan untuk strain Sudan mencapai 71 persen.

Meski demikian WHO mengungkapkan wabah terburuk terjadi di Afrika Barat pada awal 2014 lalu, dan termasuk yang terbesar sepanjang sejarah virus ini.

Di Barat, rabies sudah tergolong langka, tetapi penyakit ini masih memicu masalah di India dan sebagian Afrika. "Virusnya bisa merusak otak, jika penanganan tidak segera diberikan. Kemungkinan untuk meninggal bisa sampai 100 persen," ungkap Muhlberger.

Sejak pertama kali ditemukan di tahun 1980-an, diperkirakan sudah ada 36 juta orang yang meninggal akibat virus ini. Bahkan masih tergolong penyakit yang sulit disembuhkan, apalagi pasien harus bergantung pada obat untuk seumur hidupnya.

Virus ini masih banyak ditemukan di negara berpendapatan rendah dan sedang di mana 95 persen kasus baru juga terjadi.

Cacar air sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan akhirnya di tahun 1980, penyakit ini sempat dilaporkan musnah. Saat ini cacar air versi baru muncul dan mengakibatkan 1 dari 3 pasien meninggal karenanya, dengan penyintas mengalami berbagai efek samping yang buruk seperti kebutaan.

Tingkat kefatalan tertingginya saat ini ada di populasi di luar Eropa meski ahli sejarah mengatakan ini terjadi karena dulunya mereka tertular oleh para penjelajah Eropa yang tak sengaja membawa virus ini. Di masa modern, cacar air diperkirakan telah membunuh 300 juta orang.

(lll/vit)

Berita Terkait