"Waktu makan malam dan melihat tayangan di televisi (TV) mengenai kondisi Timor-Timur 'kok kasian banget kita di sini makanan kesukaan ada'. Sementara kita lihat orang di TV nggak memiliki kepastian hidup, akhirnya kami memilih membatalkan liburan keliling dunia untuk melihat kondisi pengungsi Timor-Timur," tutur Kapten Budi kepada detikHealth.
Lebih lanjut, Kapten Budi menceritakan awal kedatangan dan pendirian rumah yatim piatu 'Roslin' yang dipenuhi rumor buruk. Ia mengatakan rumor yang beredar mengenai dirinya dan keluarga adalah perdagangan jual-beli anak di Singapura.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ditemui di sela-sela acara BRAND'S Health award 2016 di Ruang Ramayana Hotel Indonesia Kempinski, Jl M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, baru-baru ini, Kapten Budi mengatakan rumor buruk mengenai dirinya akhirnya pun hilang dengan sendirinya karena tidak adanya bukti dari hal tersebut.
"Rumor hilang karena anak-anak yang masuk di sini (rumah yatim piatu 'Roslin') malah tumbuh besar, sehat, dan bersekolah semua. Bulan lalu juga salah satu anak kami disumpah menjadi dokter dan ada juga yang lulus computer science," imbuh Kapten Budi.
Baca juga: Meski Baru Berusia 23 Tahun, Pria Ini Punya 24 Anak
"Time will tell ya, jadi rumor jangan ditanggapin serius. Yang perlu adalah kita kerja keras, kita benar dan menunjukkan semua hasilnya," sambung Kapten Budi yang pensiun sebagai kapten pilot Singapore Airlines pada 2015 lalu.
Sementara itu, rencana selanjutnya Budi berharap bisa menciptakan sebuah desa organik di Kupang. Hal tersebut ia lakukan dengan mengajari anak-anak di rumah yatim piatu 'Roslin' berkebun dan beternak agar kelak bisa memenuhi gizi masyarakat Kupang sendiri, walaupun hal tersebut tidak mudah karena dilakukan di atas tanah berbatu.
"Nusa Tenggara Timur (NTT) dinilai sebagai daerah gersang, kering dan ada yang bilang tanah 'terkutuk' tapi sebetulnya tempat ini bisa subur dan memenuhi gizi masyarakat. Tuhan itu maha sempurna, segala sesuatu yang Tuhan ciptakan memiliki kesempurnaan jadi kami dimampukan untuk menanam sayuran organik di atas tanah batu," ucap Kapten Budi.
Baca juga: Derita Anak Yatim Piatu Korban Ebola, Ditelantarkan Kerabat Hingga Trauma (up/up)











































