dr Astuti, SpS(K), dari Klinik Tidur Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada - RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta, menjelaskan ada tiga kategori insomnia yang mungkin dialami pasien. Pertama adalah insomnia jangka pendek, insomnia intermittent dan insomnia jangka panjang.
"Insomnia jangka pendek dan insomnia intermittent (hilang-timbul) itu masuknya insomnia akut. Kalau insomnia jangka panjang termasuknya insomnia kronis," tutur dr Astuti, dalam temu media soal Insomnia, di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: 4 Langkah Tidur Nyenyak Tanpa Mimpi Buruk
Sementara itu, insomnia kronis biasanya sudah berlangsung beberapa lama. Faktor-faktor yang memengaruhi antara lain kesehatan fisik, kondisi jiwa serta gaya hidup.
"Kalau insomnia akut biasanya tidak perlu diobati sudah bisa hilang. Sementara insomnia kronis membutuhkan pengobatan oleh tim dokter untuk dicari penyebabnya apa dan tindakan apa yang dilakukan," tutur dr Astuti.
dr Astuti menambahkan setiap tahunnya kurang lebih 20-50 persen orang dewasa melaporkan adanya gangguan tidur, dengan 17 persennya mengalami gangguan tidur. Karena itu, edukasi tentang insomnia harus dilakukan.
"Insomnia ini sekilas masalah sepele. Padahal kalau tidak ditangani bisa menyebabkan kualitas hidup menurun dan memperburuk kondisi gangguan jiwa atau masalah kejiwaan yang dialami," tutupnya.
Baca juga: 5 Langkah Kontrol Insomnia Anda Tanpa Obat (mrs/up)











































