ADVERTISEMENT

Rabu, 30 Nov 2016 14:48 WIB

Lelah Hidup Sebagai Alkoholik, Pria Ini Minta Disuntik Mati

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta - Euthanasia atau suntik mati lazimnya hanya diberikan kepada mereka yang sudah sakit kronis dan tak memiliki harapan untuk sembuh.

Namun baru-baru ini seorang pria di Belanda memutuskan mengakhiri hidupnya dengan suntik mati setelah lelah hidup sebagai pecandu alkohol. Ia merasa ini adalah satu-satunya cara untuk menghentikan kecanduannya pada alkohol.

Kisah tentang pria bernama Mark Langedijk ini ditulis oleh sang adik, Marcel dan dipublikasikan di majalah lokal, Linda.

Dikisahkan bahwa Mark, Marcel dan saudara perempuan mereka, Angela memiliki masa kecil yang bahagia di Provinsi Overijssel, Belanda timur. Akan tetapi persoalan muncul ketika delapan tahun lalu keluarga menemukan bahwa Mark bermasalah dengan alkohol.

"Kami mencoba semuanya, psikolog, psikiater, dokter untuk membantunya. Tetapi Mark seolah-olah tak tahu bagaimana caranya menjelaskan apa yang ia rasakan," tulis Marcel seperti dilaporkan Daily Mail.

Marcel bahkan sempat marah karenanya, apalagi ketika melihat pengorbanan orang tua mereka. "Orang tua kami mengadopsi kedua anaknya. Mark dipersilakan tinggal di rumah ketika pernikahannya hancur, memberinya akomodasi, mengantarnya rehab, memberinya uang, dukungan dan cinta tanpa putus," urainya.

Baca juga: Ramai-ramai Melancong ke Swiss, Turis-turis Ini Cuma Numpang Bunuh Diri

Namun selama delapan tahun yang berat itu dengan 21 kali keluar masuk rehabilitasi, Mark tetap saja minum, bahkan tiap kali selesai rehabilitasi.

Lelah, Mark sendiri akhirnya memutuskan untuk mati saja, dan hal ini tentu ditentang oleh keluarga, terutama karena euthanasia bukan diperuntukkan bagi pecandu alkohol. "Ia bilang ke dokternya bahwa ia ingin mati, enough is enough," lanjut Marcel.

Rupanya Mark sendiri menyadari bahwa hidupnya berantakan. Bahkan ia mempunyai bukti untuk itu dengan diam-diam menulis sebuah diari yang menurut Marcel berisi 'tumpahan perasaan sakit, kesepian dan kesedihan'.

Permintaan Mark untuk memperoleh euthanasia akhirnya disetujui oleh lembaga berwenang, Support and Consultation on Euthanasia in the Netherlands. Ia bahkan diperkenankan memilih tanggal kematiannya sendiri, yaitu 14 Juli, dan berulang kali menyebut dirinya 'mayat berjalan'.

Baca juga: Di Belgia, Anak-anak Bakal Dibolehkan Minta Suntik Mati

Begitu hari H tiba, Mark duduk-duduk di teras dan meminum bir. Ia juga sempat melontarkan guyonan dan memakan roti lapis dan sup, hingga dokternya tiba pada pukul 3.15 sore. Artikel Marcel juga menjelaskan dengan detail apa yang terjadi setelahnya.

Mark dan keluarganya dijelaskan prosedur dari euthanasia, dimulai dari pemberian obat tidur lalu suntikan untuk menghentikan detak jantungnya. Mark lantas diminta berbaring dalam keadaan tenang. "Saya mulai menangis, begitu juga orang tua saya, setiap orang, bahkan Mark sendiri," kata Marcel.

Mark kemudian sempat meminum segelas wine putih dan menyulut sebatang rokok. Setelah bertanya 'Apakah Anda yakin 100 persen?', sang dokter kemudian memberinya suntikan mematikan itu. Mark dinyatakan meninggal dalam usia 41 tahun.

Kematian Mark menandai babak baru praktik dalam euthanasia di Belanda. Sejak diperkenalkan 16 tahun lalu, euthanasia hanya diberikan kepada mereka yang sakit kronis, tetapi belakangan praktik ini meluas, di antaranya diperuntukkan bagi mereka yang mengalami 'isolasi sosial dan kesepian', seperti halnya Mark.

Sejauh ini Belanda adalah salah satu dari hanya sedikit negara yang melegalkan euthanasia. Tahun lalu saja, sudah 5.500 orang yang permintaan eutanasianya dipenuhi oleh negara. Bahkan Belanda bisa memberikan layanan ini di rumah masing-masing pasien, sesuai permintaan. (lll/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT