Jumat, 16 Des 2016 16:44 WIB

Indonesia, Jangan Lupakan Penyakit Kusta

Firdaus Anwar - detikHealth
Foto: Firdaus Foto: Firdaus
Subang - Duta World Health Organization (WHO) dari Jepang Yohei Sasakawa pada Jumat (16/12) melakukan kunjungan ke Kabupaten Subang, Jawa Barat. Ia ingin melihat bagaimana kondisi pengidap kusta di negara yang tercatat memiliki pengidap terbesar ketiga di dunia.

Sasakawa mengunjungi Subang setelah sebelumnya berkoordinasi dengan Menteri Kesehatan Profesor Dr dr Nila Moeloek, SpM(K). Indonesia meski sudah hampir bisa memberantas kusta, masih memiliki 14 provinsi yang endemis sehingga ia ingin tahu apa-apa saja yang bisa dilakukan untuk menghadapinya.

"Penyakit yang selalu diperhatikan itu cenderung penyakit seperti AIDS, paru, malaria, dan penyakit lain karena memang banyak jumlah penderitanya. Kusta yang sudah sedikit ini terlupakan oleh masyarakat, padahal nyatanya masih banyak orang mengidap kusta," kata Sasakawa ketika berkunjung ke kantor Bupati Subang, Jawa Barat, Kamis (16/12/2016).

"Saya takut Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah semua terlupa memperhatikan mereka (pasien kusta -red). Saya datang ke sini untuk mengingatkan kepada seluruh masyarakat bahwa penderita penyakit kusta harus selalu dijaga harus selalu dikurangi," lanjutnya.

Baca juga: Kemenkes Beberkan Sebab Masih Tingginya Kasus Kusta di Indonesia

Kusta sendiri adalah penyakit yang bisa sembuh. Obat telah gratis disediakan pemerintah hanya saja karena ada stigma penderitanya jadi banyak yang bersembunyi enggan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Dampaknya sebuah kasus kusta bisa tak terdeteksi. Kondisi pasien akan semakin parah hingga pada akhirnya menimbulkan kecacatan, menambah stigma yang ada dan juga jadi beban ekonomi.

"Akibat stigma itu yang membuat penderita tidak berani. Itu yang terjadi sejak dulu hingga sekarang. Salah satu usulan yang saya sampaikan adalah upaya penjelasan tentang penyakit kusta diberikan juga di sekolah-sekolah. Berikan penjelasan pada anak yang setelah itu pulang ke rumah dan menjelaskan kepada keluarganya," tutup Sasakawa.

Baca juga: Jalan Panjang Eliminasi Penyakit Kaki Gajah di Indonesia (fds/up)