Kennedy Jr berargumen bahwa vaksin menyebabkan autisme dan penyakit lainnya. Hal ini sudah di jelaskan tidak benar oleh Lembaga Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) dengan mengutip berbagai macam studi.
Baca juga: Gerakan Antivaksin Menjamur, Begini Komentar si Cantik Artika Sari Devi
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tugas komisi adalah memastikan bahwa kita memiliki integritas ilmiah dalam proses keamanan dan efikasi vaksin," ungkap Kennedy kepada reporter seperti dikutip dari BBC, Rabu (11/1/2016).
President Trump sendiri sebetulnya juga pernah mengekspresikan keraguannya terhadap vaksin. Sewaktu masih menjadi calon presiden ia pernah menyebut bahwa sebaiknya vaksin diberikan dalam dosis yang lebih sedikit dalam jangka waktu lama.
"Saya mendukung vaksinasi," kata Trump dalam debat calon presiden tahun 2015.
"Tapi saya ingin vaksin diberikan dalam jumlah sedikit dalam jangka waktu lama. Anda akan mendapatkan jumlah yang sama dan bayi yang cantik. Kalau sekarang Anda memompa vaksin ke anak-anak seperti dosis untuk kuda, ada banyak kejadian orang-orang yang bekerja untuk saya anaknya divaksin lalu seminggu kemudian kondisinya demam dan sekarang autis," tutur Trump.
Sekali lagi para ahli menolak keras segala bentuk kaitan antara vaksin dengan autisme. Justru dikhawatirkan bila pandangan tersebut meluas akan menjadi pemicu munculnya penyakit-penyakit lama karena orang tua tak lagi memvaksinasi anaknya.
Baca juga: Masih Sedikit yang Divaksin, Anak-anak di Australia Kena Wabah Cacar Air
(fds/vit)











































