Pro Persalinan Normal, dr Hariyasa Selalu Sabar Hadapi Tangisan Calon Ibu

Doctor's Life

Pro Persalinan Normal, dr Hariyasa Selalu Sabar Hadapi Tangisan Calon Ibu

Ajeng Anastasia Kinanti - detikHealth
Senin, 23 Jan 2017 13:02 WIB
Pro Persalinan Normal, dr Hariyasa Selalu Sabar Hadapi Tangisan Calon Ibu
dr I Nyoman Hariyasa Sanjaya, SpOG (KFM), MARS (Foto: dok. pribadi)
Jakarta - Menjadi dokter kandungan membuat dr I Nyoman Hariyasa Sanjaya, SpOG (KFM), MARS merasa harus ekstra sabar menghadapi pasien. Terutama saat pasien memasuki proses persalinan, di mana menurutnya itu adalah momen yang paling mendebarkan.

Dikatakan oleh dokter yang merupakan Ketua Indonesian Water Birth Association ini, proses persalinan merupakan salah satu fase di mana seorang wanita berjuang melawan rasa sakit. Ia yakin betul proses alamiah ini bisa dilewati pasien asalkan banyak dukungan di sekitarnya.

"Problemnya saat ini banyak ibu yang tidak tahan terhadap rasa nyeri. Memasuki kontraksi pembukaan 8 hingga 10, kuantitas nyerinya sangat tinggi. Yang tidak tahan pun bisa meminta operasi caesar," tutur dr Hariyasa kepada detikHealth baru-baru ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seiring perkembangan ilmu kedokteran, sudah mulai banyak beberapa teknik dan obat untuk membantu mengurangi nyeri melahirkan, termasuk teknik epidural dan ILA (Intra Labour Analgesia). Sayangnya, menurut dr Hariyasa problem lainnya adalah tidak banyak rumah sakit yang dilengkapi oleh fasilitas ini.

Sehingga yang sering terjadi, pasien buru-buru meminta operasi caesar agar tak merasakan nyeri kontraksi. Inilah yang seringkali diupayakan dr Hariyasa untuk diperjuangkan.

"Operasi jadi booming ya sekarang, terjadi lonjakan permintaan caesar non-medikal. Padahal harus disadari bahwa persalinan normal adalah proses alamiah yang harus diperjuangkan. Tuhan memberikan kehamilan, tentu lengkap dengan jalan lahirnya," imbuh dokter Obstetri dan Ginekologi FK UNUD/RS Sanglah, Denpasar, Bali ini.

Baca juga: dr Niko Dalami Kardiologi karena Banyak Kerabat yang Sakit Jantung

Menghadapi rasa nyeri pasien saat melahirkan, dr Hariyasa merasa harus selalu siap dan sabar mengingatkan pasien akan manfaat dari persalinan normal. Rasa nyeri dikatakan olehnya merupakan hal yang wajar, namun setimpal dengan manfaat yang didapat oleh ibu dan bayi.

Di antaranya adalah bayi memiliki proses yang lengkap di awal proses hidupnya. Dengan melewati proses persalinan normal, bayi juga memiliki kesempatan lebih besar untuk bisa langsung IMD (Inisiasi Menyusui Dini) dan skin-to-skin contact dengan sang ibu. Oleh sebab itu, dr Hariyasa sangat mendukung jika ada ibu yang menyatakan ingin berupaya melahirkan normal, tentu jika memang kondisinya memungkinkan.

Dalam konteks tersebut, water birth menurut dr Hariyasa bisa menjadi solusi alternatif untuk mengatasi nyeri persalinan secara alamiah. Salah satu hal yang diyakini dapat meredakan rasa nyeri kontraksi adalah dengan berendam di air hangat. Konsep ini dikatakan oleh dr Hariyasa mengambil konsep spa yang rileks.

Baca juga: Terinspirasi Semangat Marc Marques, dr Hendra Jadi Penggila Motor

Namun demikian, teknik ini masih menjadi pro dan kontra di masyarakat, karena belum direkomendasikan oleh Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI). Menanggapi hal ini, dr Hariyasa menyebutkan bahwa hal ini adalah karena belum banyaknya riset ilmiah yang dilakukan untuk menelaah lebih jauh tentang plus minus water birth. Ia pun sangat mendukung jika kemudian dilakukan kajian dan riset mengenai teknik ini.

"Kita perlu meluruskan, mari kita buat kajian bersama. Jadi supaya ada kejelasan dan ada manfaatnya, tidak dibiarkan pro kontra dan jadi kebingungan di masyarakat. Jika perlu dibuat kelompok kerja di POGI untuk mendalami metode mengatasi nyeri persalinan, diteliti, setelah itu baru keluarkan keputusan," tegas dr Hariyasa.

Biodata singkat

Nama: dr I Nyoman Hariyasa Sanjaya, SpOG (KFM), MARS
Tempat tanggal lahir: Singaraja, Bali 9 Juni 1968
Praktik
Bagian Obstetri dan Ginekologi FK UNUD/RS Sanglah, Denpasar
Bali Royal Hospital, Denpasar
Klinik Kasih Medika, Denpasar

Pendidikan
1987-1993 Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung
1987-2002 Program Pendidikan Dokter Spesialis-1 Obstetri dan Ginekologi, FK UNUD/RS Sanglah Denpasar, Bali
2004-2005 Occupational Training in Adelaide Women's and Children's Hospital South Australia
2007 Overseas Observer in Saitama Medical Centre Saitama, Jepang
2010-2012 Program Pendidikan Administrasi Rumah Sakit Universitas Indonesia
2012 Konsultan Kedokteran Fetomaternal, FK UNUD/RSUP Sanglah Denpasar, Bali
2014-sekarang Program Pendidikan S3 Program Ilmu Kedokteran Universitas Udayana, Bali

Keorganisasian
Anggota Perinasia (sejak 2000)
Anggota IKALOGI (sejak 2002)
Wakil Ketua Ikatan Dokter Indonesia Cabang Denpasar (2010-sekarang)
Anggota IGES (Indonesian Gynecologycal Endoscopy Society)
Pendiri Bali Obstetri dan Ginekologi Ultrasound Group (sejak 2008)
Koordinator AOFOG Basic Ultrasound Training Centre in Bali (sejak 2009)
Ketua Indonesian Water Birth Association (sejak 2012)

(ajg/vit)

Berita Terkait