dr Harim Priyono, SpTHT-KL(K) dari Departemen Telinga, Hidung dan Tenggorokan Bedah Kepala dan Leher RS Cipto Mangunkusumo - FK Universitas Indonesia, menyebut implan koklea bukanlah alternatif bagi ABD konvensional. Implan koklea diberikan pada pasien gangguan pendengaran yang tak bisa lagi menerima manfaat dari penggunaan ABD.
"Jadi bukan pasien milih implan koklea karena lebih mahal dan lebih bagus. Sebagus-bagusnya alat, lebih bagus organ asli. Makanya pasien gangguan pendengaran selama masih bisa pakai ABD, nggak usah implan koklea. Tapi ketika pakai ABD sudah nggak bermanfaat lagi, baru kita tawarkan opsi implan koklea," tutur dr Harim, dalam temu media di RSCM Kencana, Jl Pangeran Diponegoro, Jakarta Pusat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara ringkas, ABD merupakan alat yang membantu pendengaran dengan cara memperbesar volume suara yang masuk. Hal ini dilakukan agar koklea atau rumah siput lebih mudah menangkap gelombang suara, sebelum mengirimnya ke saraf pendengaran dan otak dan diidentifikasi sebagai bunyi.
Di sisi lain, implan koklea merupakan proses penanaman elektroda di dalam telinga untuk menggantikan fungsi koklea yang sudah rusak. Dengan begitu, gelombang suara yang masuk ke dalam telinga bisa diantarkan dengan lebih baik ke saraf pendengaran dan otak.
"Jadi misalnya pasien pendengarannya hanya 60 persen. Pakai ABD naik jadi 100 persen. Tapi kok lama-lama turun jadi 80 persen, 40 persen hingga hilang sama sekali. Ketika itulah ABD sudah tidak bermanfaat, dan kita sarankan untuk melakukan operasi implan koklea," terangnya.
dr Harim mengaku memiliki pengakuan menarik soal perbedaan penggunaan ABD dan implan koklea dari pasiennya. Pada pasien yang pernah mendengar, ABD dan implan koklea dianalogikan seperti televisi.
ABD merupakan televisi berwarna, sementara implan koklea diibaratkan seperti televisi hitam putih. Menggunakan ABD bisa membuat seseorang mengenali bunyi meskipun tidak keras. Di sisi lain, implan koklea membuat seseorang bisa mendengar dengan jelas, namun sulit mengidentifikasi bunyi.
"Tapi coba bayangkan bagaimana perasaan anak yang tak pernah menonton televisi, lalu bisa menonton walaupun hitam putih saja. Tentu saja itu pengalaman baru. Sama seperti pasien gangguan pendengaran yang sebelumnya tak bisa mendengar sama sekali. Walaupun tidak bisa mengenali bunyi, tapi bisa mendengar saja sudah merupakan kebahagiaan yang tak ternilai," pungkasnya.
Baca juga: Ini Pentingnya Deteksi Dini Gangguan Dengar Bayi Baru Lahir (mrs/vit)











































