Merokok dan Jarang Ganti Sikat: 5 Hal yang Diam-diam Merusak Gigi

Merokok dan Jarang Ganti Sikat: 5 Hal yang Diam-diam Merusak Gigi

Ajeng Anastasia Kinanti - detikHealth
Selasa, 31 Jan 2017 09:36 WIB
Merokok dan Jarang Ganti Sikat: 5 Hal yang Diam-diam Merusak Gigi
Foto: Thinkstock
Jakarta - Gigi merupakan salah satu bagian penting di tubuh yang harus selalu diperhatikan dan dijaga kesehatannya. Hati-hati, kebiasaan sehari-hari juga bisa merusak gigi lho.

Ya, beberapa kebiasaan seperti menggunakan gigi untuk membuka kemasan makanan atau tutup botol diketahui dapat merusak kekuatan gigi. Kebiasaan lain seperti malas flossing juga bisa merusak kesehatan gigi. Selain itu, ada beberapa hal lain yang tanpa disadari juga bisa merusak gigi.

Dikutip dari Times of India, berikut 5 kebiasaan sehari-hari lainnya yang juga bisa merusak gigi:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Ini Risikonya Jika Malas dan Sering Absen Menyikat Gigi

1. Jarang ganti sikat gigi baru

Foto: Getty Images
Melissa Thompson, DMD, pemiliki Aspen Dental di Massachusetts mengatakan ketika bulu sikat gigi mulai usang, maka bulu sikat gigi tidak mampu membersihkan plak yang ada di antara gigi hingga plak menempel di sela-sela gigi. Padahal, plak selalu terbentuk sebab Anda pun selalu mengonsumsi makanan dan minuman.

"Plak tidak hanya menyebabkan gigi berlubang. Tapi ketika plak tidak dibersihkan di sekitar garis gusi, bisa menyebabkan peradangan dan iritasi yang mengarah ke gingivitis atau penyakit gusi. Jika gingivitis tidak diobati, bisa berkembang menjadi penyakit periodontal bahkan kehilangan gigi," terang Thompson.

2. Menyikat gigi terlalu keras

Foto: thinkstock
Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI) drg Farichah Hanum, MKes, pernah menuturkan bahwa menyikat gigi terlalu kencang dalam waktu lama, ditambah menggunakan bulu sikat gigi keras justru bisa memicu abrasi gigi. Abarasi adalah hilangnya lapisan email gigi karena menyikat gigi secara berlebihan.

Dengan pola menyikat gigi seperti itu, dikatakan drg Hanum justru terjadi abrasi hingga lapisan email terkikis dan lapisan gigi bagian dalam tidak terlindung. Dampaknya, terjadi gigi sensitif hingga timbul ketidaknyamanan ketika mengonsumsi sesuatu. Selain itu, pastinya gigi bakal terasa nyeri dan ngilu.

drg Hanum mengungkapkan, masalah gigi sensitif juga bisa disebabkan karena kelainan pada gigi yang umumnya berupa karies alias gigi berlubang. Belum lagi umumnya seseorang tidak menyadari ada lubang pada giginya, terutama jika lokasi gigi di posisi belakang dan jarang bisa dirasakan.

3. Langsung menyikat gigi setelah makan

Foto: thinkstock
Dr Mervyn Druian dari London Centre for Cosmetic Dentistry, mengatakan terutama pada anak-anak, sebaiknya orang tua menganjurkan agar mereka tidak langsung menyikat giginya setelah sarapan.

"Konsumsi makanan pada dasarnya menyebabkan penumpukan asam di mulut yang dapat melembutkan enamel gigi untuk sementara waktu. Belum lagi jika Anda minum jus saat sarapan, maka mulut bisa lebih asam," kata Druian seperti dikutip dari Daily Mail.

Nah, ketika langsung menyikat gigi segera setelah sarapan, maka secara tak sadar Anda sudah menyikat enamel dari gigi. Untuk itu, Druian lebih menyarankan untuk menyikat gigi segera setelah Anda bangun tidur dan kemudian sikat gigi kembali saat sebelum tidur.

4. Mengonsumsi terlalu banyak gula

Foto: thinkstock
Gula adalah salah satu pemicu terbesar kerusakan pada gigi dan gusi. Ini karena gula menyebabkan bakteri menghasilkan asam, yang dalam jangka panjang akan merusak lapisan enamel gigi dan berujung pada kerusakan gigi dan gusi secara keluruhan.

5. Pakai tusuk gigi sembarangan

Foto: ilustrasi/thinkstock
Menurut drg Ratu Mirah Afifah, GCCClinDent, MDSc, Head of Professional Oral Care PT Unilever Indonesia, jika tidak hati-hati penggunaan tusuk gigi bisa berpotensi menimbulkan luka yang dapat menjadi pintu masuk infeksi kuman atau bakteri.

"Kalau ada makanan yang menyelip sudah semestinya kita waspada, karena menyelipnya sisa makanan bisa karena gigi berlubang, ada celah di gigi, atau ada penyakit gusi sehingga timbul celah di antara gusi dan gigi," kata drg Mirah.

Apalagi, sebenarnya dalam kondisi normal keadaan gigi dan gusi juga sudah baik dan kecil risiko akan terselip sisa makanan, demikian dikatakan drg Mirah. Ketika terlalu sering makanan menyelip di gigi, maka sebaiknya jangan terus-terusan 'mencongkelnya' dengan tusuk gigi. Sebab, justru permukaan tusuk gigi yang cenderung tajam akan mengenai gusi.
Halaman 2 dari 6
Melissa Thompson, DMD, pemiliki Aspen Dental di Massachusetts mengatakan ketika bulu sikat gigi mulai usang, maka bulu sikat gigi tidak mampu membersihkan plak yang ada di antara gigi hingga plak menempel di sela-sela gigi. Padahal, plak selalu terbentuk sebab Anda pun selalu mengonsumsi makanan dan minuman.

"Plak tidak hanya menyebabkan gigi berlubang. Tapi ketika plak tidak dibersihkan di sekitar garis gusi, bisa menyebabkan peradangan dan iritasi yang mengarah ke gingivitis atau penyakit gusi. Jika gingivitis tidak diobati, bisa berkembang menjadi penyakit periodontal bahkan kehilangan gigi," terang Thompson.

Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI) drg Farichah Hanum, MKes, pernah menuturkan bahwa menyikat gigi terlalu kencang dalam waktu lama, ditambah menggunakan bulu sikat gigi keras justru bisa memicu abrasi gigi. Abarasi adalah hilangnya lapisan email gigi karena menyikat gigi secara berlebihan.

Dengan pola menyikat gigi seperti itu, dikatakan drg Hanum justru terjadi abrasi hingga lapisan email terkikis dan lapisan gigi bagian dalam tidak terlindung. Dampaknya, terjadi gigi sensitif hingga timbul ketidaknyamanan ketika mengonsumsi sesuatu. Selain itu, pastinya gigi bakal terasa nyeri dan ngilu.

drg Hanum mengungkapkan, masalah gigi sensitif juga bisa disebabkan karena kelainan pada gigi yang umumnya berupa karies alias gigi berlubang. Belum lagi umumnya seseorang tidak menyadari ada lubang pada giginya, terutama jika lokasi gigi di posisi belakang dan jarang bisa dirasakan.

Dr Mervyn Druian dari London Centre for Cosmetic Dentistry, mengatakan terutama pada anak-anak, sebaiknya orang tua menganjurkan agar mereka tidak langsung menyikat giginya setelah sarapan.

"Konsumsi makanan pada dasarnya menyebabkan penumpukan asam di mulut yang dapat melembutkan enamel gigi untuk sementara waktu. Belum lagi jika Anda minum jus saat sarapan, maka mulut bisa lebih asam," kata Druian seperti dikutip dari Daily Mail.

Nah, ketika langsung menyikat gigi segera setelah sarapan, maka secara tak sadar Anda sudah menyikat enamel dari gigi. Untuk itu, Druian lebih menyarankan untuk menyikat gigi segera setelah Anda bangun tidur dan kemudian sikat gigi kembali saat sebelum tidur.

Gula adalah salah satu pemicu terbesar kerusakan pada gigi dan gusi. Ini karena gula menyebabkan bakteri menghasilkan asam, yang dalam jangka panjang akan merusak lapisan enamel gigi dan berujung pada kerusakan gigi dan gusi secara keluruhan.

Menurut drg Ratu Mirah Afifah, GCCClinDent, MDSc, Head of Professional Oral Care PT Unilever Indonesia, jika tidak hati-hati penggunaan tusuk gigi bisa berpotensi menimbulkan luka yang dapat menjadi pintu masuk infeksi kuman atau bakteri.

"Kalau ada makanan yang menyelip sudah semestinya kita waspada, karena menyelipnya sisa makanan bisa karena gigi berlubang, ada celah di gigi, atau ada penyakit gusi sehingga timbul celah di antara gusi dan gigi," kata drg Mirah.

Apalagi, sebenarnya dalam kondisi normal keadaan gigi dan gusi juga sudah baik dan kecil risiko akan terselip sisa makanan, demikian dikatakan drg Mirah. Ketika terlalu sering makanan menyelip di gigi, maka sebaiknya jangan terus-terusan 'mencongkelnya' dengan tusuk gigi. Sebab, justru permukaan tusuk gigi yang cenderung tajam akan mengenai gusi.

(ajg/up)

Berita Terkait