Dr Juan Lubroth dari FAO mengatakan peningkatan konsumsi daging membuat produksi daging harus ditambah. Dalam praktiknya, penambahan suplai daging oleh industri bisa jadi mengancam kesehatan karena daging berasal dari peternakan yang belum teregulasi dan diawasi dengan baik kebersihan serta keamanan produksinya.
"Sebagian besar peternakan di Asia belum memiliki sistem regulasi yang mengatur keamanan konsumen dengan baik, perlindungan terhadap kesehatan binatang dan manusia, serta pencegahan penularan penyakit," tutur Lubroth dalam keterangan pers yang diterima detikHealth.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Imbasnya, kesehatan konsumen terancam akibat risiko-risiko penyakit menular, baik penyakit baru ataupun penyakit lama yang muncul kembali. Penyakit-penyakit ini bisa saja menyebar ke daerah lain melalui hewan ternak, dan baru diketahui ketika sudah terlambat.
Lubroth juga mengatakan sekitar 70 persen penyakit menular didapat dari hewan, termasuk antraks dan flu burung. Oleh karena, pencegahan penyakit harus dimulai dari peternakan.
"Semua pihak terkait, termasuk pemerintah, peternak, hingga penjual daging, harus melakukan langkah-langkah pencegahan dengan memberikan vaksin kepada hewan, menjaga bio-security tetap maksimal dan menjual hewan dalam kondisi terbaik," tambahnya.
Data FAO menunjukkan adanya peningkatan konsumsi daging dalam 50 tahun terakhir, terutama di Asia bagian timur dan tenggara. Hal ini dikarenakan tingkat kesejahteraan yang semakin membaik, terutama di China, Jepang, Korea hingga Thailand dan Singapura.
Tingginya angka pertumbuhan penduduk juga berperan dalam peningkatan konsumsi daging. Dalam waktu 50 tahun, angka konsumsi daging meningkat hingga 500 persen.
Baca juga: Konsumsi Daging Merah Berbahaya Bagi Kesehatan Jantung, Mitos atau Fakta?
(mrs/vit)











































