Cerita Spencer, Remaja AS yang Sukses Cangkok Jantung-Paru Sekaligus

Cerita Spencer, Remaja AS yang Sukses Cangkok Jantung-Paru Sekaligus

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Selasa, 28 Feb 2017 14:11 WIB
Cerita Spencer, Remaja AS yang Sukses Cangkok Jantung-Paru Sekaligus
Foto: CNN/St Louis Children's Hospital
Jakarta - Sejak masih kecil, Spencer Kolman sudah sering sakit-sakitan, terutama sesak napas. Ia pun butuh skuter khusus untuk mempermudah mobilitasnya di sekolah. Ia juga hanya bisa masuk setengah hari karena ia mudah sekali kelelahan.

Hingga suatu ketika di bulan Januari 2013 silam, Spencer terjatuh saat sedang bermain hoki es. Umurnya saat itu baru 11 tahun.

Keluarga mengira Spencer terserang asma dan diberi obat sesuai dengan dugaan tersebut. Tak mempan, Spencer diperiksakan lagi di University of Chicago dan muncul diagnosis lain, yaitu walking pneumonia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tetapi tak ada gunanya. Kemudian sejumlah tes dilakukan dan akhirnya mereka sampai pada kesimpulan bahwa ini disebabkan pulmonary fibrosis," katanya kepada CNN.

Kondisi ini ditandai dengan adanya perlukaan di paru-paru sehingga mengganggu kemampuan pasien untuk bernapas. Namun kasus Spencer di luar kebiasaan, sebab kebanyakan kasus pulmonary fibrosis tidak diketahui sebabnya, tetapi pada Spencer, pemicunya sangat jelas, yaitu kanker bernama rhabdomyosarcoma yang diidap Spencer saat umurnya baru 16 bulan.

Setelah menjalani kemoterapi, operasi dan terapi radiasi, kanker di tubuh Spencer pun hilang. Belakangan muncul dugaan bahwa kemoterapi yang dijalani Spencer saat masih balita itu telah menyebabkan perlukaan di paru-parunya.

Perlukaan ini juga berpengaruh ke kesehatan jantung Spencer. Hingga akhirnya dokter menyatakan bahwa keduanya mengalami penurunan fungsi sehingga membutuhkan transplantasi.

Di seluruh penjuru AS, hanya ada lima rumah sakit yang sanggup melakukan prosedur transplantasi jantung-paru sekaligus, tetapi tak ada satupun yang berada di tempat tinggal Spencer, Chicago. Setelah berkeliling, sebagian besar rumah sakit menolak mengoperasi Spencer karena paru-parunya nyaris menempel pada dadanya karena peradangan. Itu berarti operasinya menjadi sangat berisiko.
Spencer dalam masa pemulihan (Foto: Facebook/Stand Up for Spencer)Spencer dalam masa pemulihan (Foto: Facebook/Stand Up for Spencer)

Baca juga: Kisah Haru Suami Berikan Ginjal Sebagai Hadiah Ultah Pernikahan

Hingga kemudian keluarga Spencer sampai di St Louis Children's Hospital. "Kasus Spencer pada waktu itu memang tidak lazim, dan kondisinya jauh lebih buruk dari dugaan kami. Tetapi kemudian kondisinya kami evaluasi lagi," tutur Dr Stuart Sweet, ahli paru anak dan juga direktur medis St Louis Children's Pediatric Lung Transplant Program.

Nyatanya dari hasil evaluasi mereka, risiko yang dilihat oleh tim dokter dari rumah sakit lain tidaklah berlaku bagi mereka. Kebetulan rumah sakit ini memang berpengalaman dalam menangani operasi transplantasi dengan tingkat kesulitan yang tinggi.

"75 persen kasus yang kami tangani adalah transplantasi paru-paru ulang. Ini yang menjadi kelebihan kami," timpal Dr Pirooz Eghtesady, ketua tim bedah Spencer.

Spencer kemudian menjalani rawat jalan sembari menunggu donor. Awalnya mereka mengira perkembangan penyakit Spencer akan lambat, tetapi kenyataannya justru berkebalikan. Spencer sampai menghabiskan 15 liter oksigen tiap menitnya, sehingga ia sempat diragukan bertahan hidup.

Ini juga berarti waktu mereka tak lama lagi. Namun Spencer sangat beruntung karena di menit-menit terakhir, sebuah kabar menggembirakan sampai ke telinga tim dokter. Mereka menemukan donor yang dibutuhkan.

Menurut Dr Eghtesady, operasi yang dijalani Spencer adalah transplantasi 'en bloc', di mana jantung dan paru-paru yang menyatu 'ditanam' secara bersamaan di dalam tubuh remaja ini. Bahkan tim dokter berhasil melakukannya hanya dalam waktu 6 jam atau separuh dari durasi prosedur serupa. Prosedur semacam ini sendiri tergolong jarang.

"Sekarang kualitas hidup Spencer akan membaik," kata Dr Eghtesady. Meski begitu, setidaknya dalam setahun ke depan, Spencer akan menjalani pemeriksaan mingguan untuk memonitor perkembangannya. Di sisi lain, ayah Spencer, Ken, mengatakan bahwa kemajuan putranya 'fenomenal'.

Bagaimana tidak, sebelum operasi, Spencer tak bisa naik tangga, bahkan ketika memakai oksigen ia harus digendong bila ingin naik ke lantai atas. Kini ia bisa berjalan di atas treadmill.

"Selepas operasi, saya bisa leluasa berjalan kesana-kemari tanpa perlengkapan medis lagi. Rasanya sangat berbeda karena jadi lebih mudah," pungkas Spencer.

Baca juga: Meski Ginjalnya Tak Cocok, Ayah Ini Tetap Bisa Jadi Donor Bagi Putrinya (lll/vit)

Berita Terkait