Hal ini diungkap seorang peneliti dari Western Sydney University bernama Dr Sandra Garrido. Menurutnya, mendengarkan lagu sedih tidak akan menyembuhkan seseorang dengan depresi dari duka yang dirasakannya.
Ia sampai pada kesimpulan ini setelah mengukur mood sejumlah orang sebelum dan sesudah meminta mereka mendengarkan lagu-lagu bernada melankolis. Dari situ ia tahu bahwa musik memang mempengaruhi setiap orang dengan cara yang berbeda-beda, tergantung pada kesehatan mentalnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Secara kognitif, orang dengan tendensi atau kecenderungan depresi klinis akan merespons lagu sedih dengan cara yang berbeda," ungkap Garrido seperti dilaporkan ABC Australia.
Mengapa demikian? Garrido menemukan, secara umum sudah sulit bagi orang dengan depresi untuk 'memutus' pikiran dan perasaan negatif yang ada di dirinya.
"Ketika ia kemudian mendengarkan musik, bukannya lega, ini malah semacam melestarikan hal-hal negatif tadi," jelasnya.
Di sisi lain, ini juga bisa jadi cara ampuh untuk mendeteksi kecenderungan depresi pada diri seseorang sejak dini. "Bila Anda merasa terus-menerus sedih seperti terjebak di dalamnya dan sulit untuk keluar, mungkin ini saatnya Anda mencari bantuan medis," pesan Garrido.
Baca juga: Bukan Galau, Bocah Ini Nangis Tiap Dengar Musik karena Sindrom Langka
Tetapi bukan berarti orang dengan depresi tak dapat merasakan keuntungan dari musik. Bagaimanapun musik adalah cara terbaik untuk menaikkan mood seseorang.
Garrido juga mengatakan sejumlah partisipan yang memiliki risiko depresi terbukti merespons lagu-lagu upbeat dengan sangat baik. Hanya saja ia berpesan agar mereka tidak lantas datang ke tempat yang berisik atau memutarkan musik kencang-kencang.
"Pergilah ke tempat di mana ada musik upbeat tetapi mengandung pesan positif, sehingga setidaknya mengingatkan mereka akan masa-masa bahagia," pungkasnya.
Selain itu, pada dasarnya, Garrido menambahkan, kesedihan adalah emosi yang juga menyehatkan. "Ini memaksa kita berhenti sejenak dari kehidupan dan merenungkannya, misal merenungkan apa yang perlu kita perbaiki dalam hidup," urainya.
Baca juga: Seseorang yang Tampak 'Normal', Belum Tentu Mentalnya Baik-baik Saja (lll/up)











































