Jumat, 17 Mar 2017 11:30 WIB

Ramai Dibicarakan, Apa Sih Sebenarnya Pedofilia?

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Ilustrasi anak yang jadi korban kekerasan (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Terbongkarnya grup Facebook Loly Candy's oleh polisi membuat perbincangan soal pedofilia kembali hangat. Dalam kamus kesehatan, pedofilia memang dikategorikan sebagai salah satu bentuk gangguan jiwa.

dr Andri, SpKJ, FAPM dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera mengatakan pedofilia adalah gangguan jiwa di mana orang dewasa atau remaja yang lebih tua memiliki ketertarikan seksual secara eksklusif kepada anak-anak praremaja yang berusia di bawah 13 tahun. Pedofilia digolongkan sebagai parafilia, yakni ketertarikan seksual terhadap hal-hal yang tidak wajar.

"Menurut diagnostik dan statistik manual gangguan jiwa (DSM-5) seseorang harus berusia minimal 16 tahun untuk didiagnosis mengalami pedofilia. Bagi remaja, diagnosis pedofilia diberikan jika ketertarikan seksual terjadi pada anak yang usianya lebih muda minimal 5 tahun," tutur dr Andri kepada detikHealth.

Sebagai contoh, remaja berusia 18 tahun yang memiliki hasrat, fantasi dan ketertarikan secara seksual kepada anak usia 9 tahun disebut sebagai pedofilia. Di sisi lain, catatan DSM-5 menyatakan hubungan seksual antara remaja usia 15-18 tahun dengan anak remaja awal usia 12-13 tahun tidak dikategorikan sebagai pedofilia.


Baca juga: Lewat Media Sosial, Pria 47 Tahun Ini Eksploitasi Seksual 28 Anak

dr Andri mengatakan bahasan populer tentang pedofilia lazim dikaitkan dengan kekerasan atau tindakan seksual terhadap anak. Padahal menurutnya hal ini tidak sepenuhnya tepat. Sebabnya, dalam kasus sehari-hari pelaku kekerasan dan pelecehan seksual pada anak tidak selalu memiliki ketertarikan eksklusif kepada anak usia prapubertas.

Pedofilia sendiri secara resmi diakui sebagai penyakit gangguan jiwa pada akhir abad ke-19. Berbeda dengan pendapat umum di mana hanya pria yang bisa mengidap pedofilia, dr Andri mengatakan diagnosis pedofilia juga bisa terjadi pada wanita.

"Jadi meskipun sebagian besar kasus pelakunya adalah pria, dari catatan literatur dan kasus pedofilia di luar negeri menunjukkan wanita juga ada yang menjadi pelaku," paparnya.

Belum ada obat dan terapi yang bisa mengobati pedofilia hingga saat ini. Hal ini dikarenakan penyebab pasti mengapa seseorang mengidap pedofilia pun belum diketahui dan tidak ada pula obat yang dikembangkan.

"Tapi dari beberapa penelitian pada pelaku kejahatan seksual menunjukkan adanya korelasi antara pedofilia dengan gangguan neurologis di otak dan psikopatologi yang bisa muncul terkait hal ini," tutupnya.

Baca juga: Pedofil Bisa Kembali Normal Melalui Terapi

(mrs/vit)