Rabu, 22 Mar 2017 15:31 WIB

Bunuh Diri, Adakah Hubungannya dengan Cuaca Mendung?

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Foto: Ilustrasi: Zaki Alfarabi Foto: Ilustrasi: Zaki Alfarabi
Jakarta - Seorang Warga Negara (WN) Jepang, Inao Jiro ditemukan meninggal gantung diri di Tangerang Selatan. Kisah tragis yang menimpa manajer JKT48 tersebut melengkapi suasana 'gloomy' di tengah cuaca mendung belakangan ini. Adakah hubungan cuaca mendung dengan bunuh diri?

Menurut sebuah penelitian di Jepang, faktor cuaca memang ada hubungannya dengan kejadian bunuh diri. Laporan kasus bunuh diri di rel kereta di negara tersebut cenderung meningkat ketika cuaca buruk. Operator bahkan sampai harus meningkatkan patroli pada musim hujan.

Jepang memang dikenal memiliki angka bunuh diri yang tinggi, bahkan salah satu yang tertinggi. Untuk mengungkap penyebabnya, seorang ilmuwan Hiroshi Kadotani dari Shiga University menganalisis 971 kasus bunuh diri antara tahun 2002-2006.

Dikutip dari JapanTimes, terungkap bahwa angka bunuh diri di kota tertentu di Jepang meningkat ketika dalam beberapa hari tidak ada matahari. Proporsi tinggi dari kejadian bunuh diri tercatat setelah 3-7 hari cuaca mendung atau hujan.

Baca juga: Bunuh Diri Karena Beban Kerja Terlalu Berat, Bisakah Terjadi?

Pengaruh faktor cuaca pada kondisi kejiwaan juga teramati pada Seasonal Affective Disorder (SAD). WebMD menyebut, sekitar 2 juta orang di Inggris mengalami kondisi yang memperburuk gejala depresi pada musim-musim tertentu tersebut. Biasanya paling sering muncul pada musim dingin.

Diyakini, SAD berhubungan dengan perubahan hormonal di otak. Salah satu teori menyebut rendahnya paparan sinar matahari pada musim-musim tertentu menyebabkan penurunan hormon serotonin, yakni hormon di otak yang sifatnya menenangkan.

Baca juga: Kaitan Depresi dan Bunuh Diri dengan Kepribadian Sehari-hari

(up/up)
News Feed