"Sejak 1996, sudah 21 tahun saya mengurusi seperti ini," kata Ayu, sapaan akrab Sri Rahayu dari Yayasan Putri Mandiri, ditemui di Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Tanjung Priok Wilayah Kerja Pelabuhan Sunda Kelapa, Rabu (29/3/2017).
Bersama rekan-rekan satu timnya, Ayu memberikan penyuluhan tentang HIV di wilayah Rawa Bebek, Jakarta Utara. Mereka juga melayani tes bagi yang merasa berisiko, serta memberikan rujukan bagi yang terinfeksi untuk mendapat pengobatan yang tepat. Perempuan pekerja seks dan ibu rumah tangga menjadi sasaran utama, karena dianggap paling berisiko.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: AN Uyung / detikHealth |
Tak ingin sekadar menunggu, Ayu dan timnya cukup aktif mendatangi rumah-rumah dalam melakukan sosialisasi. Strategi ini menurut Ayu penting dilakukan, karena infeksi HIV di kalangan ibu rumah tangga masih belum mendapat perhatian. Masih ada anggapan, ibu rumah tangga tidak punya risiko untuk tertular.
"Ibu rumah tangga ini yang nggak tahu apa-apa. Tahunya suami pergi cari duit, tahu-tahu pulangnya bawa penyakit yang ditularkan ke mereka," kata Ayu.
Baca juga: Mobilitas Pekerja Seks Sulitkan Penanganan HIV di Jakarta Utara
Di kalangan pekerja seks, Ayu punya keprihatinan tersendiri pada anak-anak di bawah umur yang sudah aktif secara seksual tanpa memiliki bekal yang cukup tentang kesehatan reproduksi. Akibatnya, mereka rentan terhadap eksploitasi dan juga penularan HIV.
Tergerak oleh tingginya risiko penularan HIV di kalangan kaum perempuan, Ayu bersama rekan-rekannya mantan pekerja seks yang sudah 'pensiun' tergerak untuk berbuat sesuatu. Sekitar 21 tahun lalu, mereka mendirikan paguyuban yang kini menjadi Yayasan Putri Mandiri dan masih aktif mendampingi kaum perempuan yang terpinggirkan di Jakarta Utara.
Baca juga: Ingat, Infeksi HIV Bukan Akhir dari Segalanya (up/vit)












































Foto: AN Uyung / detikHealth