"Salah satu hal yang bisa terjadi pada lansia yaitu mereka rentan depresi. Ini mesti dipahami, masyarakat harus bisa memahami bahwa lansia mengalami fase dalam kehidupan yang sudah tidak produktif lagi, kadang ditinggalkan anaknya yang sudah berumah tangga dan bahkan dititipkan di panti jompo, kemudian mereka bisa merasa tidak berguna," kata Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI), dr Diah Dewi Utami SpKJ, MARS dalam temu media di Kantor Kemenkes, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (6/4/2017).
Untuk itu, penting bagi orang di sekitar lansia, terutama sang anak juga kerabat untuk mengetahui tanda depresi yang dialami. Pada orang dewasa, gejala depresi yang bisa diketahui di antaranya kurang aktif, ada perubahan nafsu makan dan pola tidur, kurang berkonsentrasi, putus asa, cemas, merasa tidak berharga, tidak mampu membuat keputusan, kemudian memiliki pemikiran untuk melukai diri sendiri bahkan bunuh diri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Depresi sering terjadi di kalangan lansia tapi tidak diketahui dan ditangani. Kondisi ini sering dihubungkan dengan kondisi fisik misalkan punya sakit jantung, hipertensi, diabetes, atau sakit kronis. Kemudian kejadian dalam hidup yang sulit misalnya kehilangan pasangan dan berkurangnya kemampuan dalam melakukan hal-hal yang mungkin dilakukan saat muda," kata dr Diah.
Nah, depresi bisa disembuhkan dengan terapi wicara, penggunaan antidepresan, atau kombinasi keduanya. Hadir dalam kesempatan sama, Dr Jihane Tawilah selaku perwakilan WHO Indonesia. Menurutnya, depresi sejatinya situasi di mana seseorang mengalami penyakit dan ada pengobatan untuk itu sehingga bisa disembuhkan. Menurut Jihane, depresi merupakan penyakit yang harus diatasi karena ini bukan hanya sekadar gangguan mood saja.
"Dibanding 10 tahun lalu, peningkatan kasus depresi sampai 18 persen. Kenapa? Sosial ekonomi berubah dan zaman lebih maju. Ketika mengalami depresi, ada cost berupa cost inaction seperti produktivitas menurun, absen kerja, tidak bisa berfungsi, lalu cost action, berupa treatment. Diperkirakan treatment komplet untuk depresi memakan biaya 100 USD per orang," kata Jihane.
Jihane menambahkan, depresi terdiri dari interaksi elemen yang kompleks. Ada bukti ilmiah depresi lebih mudah terjadi pada mereka yang berpendapatan rendah, pengangguran, memiliki sakit fisik, ada faktor genetik, memiliki masalah sosial, terpapar kekerasan, dan mengonsumsi narkoba atau alkohol.
Baca juga: Mengapa Semakin Tua Seseorang Jadi Lebih Gampang Sakit? Ini Alasannya (rdn/vit)










































