Terkait hal ini, detikHealth menggelar survei kecil-kecilan melalui Twitter. Di peringkat pertama, dengan jumlah 56 persen, pembaca lebih memilih membaca artikel yang berisi informasi sehari-hari.
Salah satu pemilihnya, yakni pemilik akun Twitter @insanp mengungkap alasan mengapa dia lebih suka membaca tulisan berisi informasi sehari-hari. "Yang ringan-ringan aja, mungkin ke info sehari-hari. Nggak berpotensi konflik, karena gue nggak suka konflik," tulisnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Seorang Psikopat Bisa Dideteksi Lewat Tweet-nya
Menanggapi hasil survei kecil-kecilan ini, psikolog sosial dari Ikatan Psikolog Sosial Wahyu Cahyono, SPsi, MSi mengatakan seseorang bisa saja mencari informasi tentang sesuatu yang sedang diminati atau dibutuhkan. Misalnya saat sedang hobi atau memiliki minat lari, maka yang bersangkutan akan browsing segala hal soal lari ke situs-situs yang relevan.
"Dugaan saya, pengunjung atau responden survei memang menempatkan hal-hal sehat menjadi prioritas. Kecenderungan orang memang ingin mencari tahu atau mengonfirmasi hal yang dia minati," tutur Wahyu saat berbincang dengan detikHealth.
Ia menambahkan, jenis situs yang melakukan survei juga berpengaruh. Contohnya, pada situs kesehatan, pembacanya bisa lebih memilih topik seputar kesehatan. Namun, jika situsnya merupakan informasi hiburan, bisa jadi info soal selebriti jadi yang paling digemari.
Nah, beragamnya informasi yang diterima kadangkala bisa dihubungkan dengan kesehatan jiwa seseorang. Seperti disampaikan oleh dokter spesialis kejiwaan, dr Nova Riyanti Yusuf SpKJ atau dr Noriyu, tak sedikit orang yang tidak memagari dirinya dengan memfilter arus informasi yang masuk. Tanpa disadari apa yang dilihat akhirnya memformasi identitas dirinya sendiri. Dalam artian seseorang mengidentifikasi dirinya dengan orang. Misal, ingin punya barang seperti artis A. Akhirnya yang terjadi adalah dikte eksternal.
"Itu siksaan bukan cuma fisik tapi psikologis. Karena apa? Terjadi distrosi akibat arus informasi yang berlebihan. Dulu kita nyalain TV hanya karena kita membutuhkan info. Sekarang, kadang kita nggak butuh tapi kita membanjiri diri kita dengan derasnya informasi. Kita cukupi aja dosisnya. Cukup deh bentar lihat twitter, path, atau sosmed lainnya, nggak terus-terusan," tutur dr Noriyu beberapa waktu lalu.
Baca juga: Penggunaan Media Sosial yang Seperti Ini Sudah Termasuk Kecanduan
(hrn/up)











































