Hanya saja turis diingatkan agar hati-hati karena komodo termasuk hewan buas. Di alam liar, gigitan dari seekor komodo bisa dipastikan dapat berujung fatal untuk mangsa-mangsanya.
Apa yang menyebabkan gigitan komodo ini begitu berbahaya? Peneliti melihat bahwa di dalam tubuhnya komodo memang memiliki kelenjar penghasil racun namun tidak sekuat seperti yang ada pada ular atau hewan berbisa lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hanya saja di mulut komodo, terutama di liurnya, bisa tersimpan lebih dari 50 jenis bakteri patogen berbahaya. Bakteri-bakteri ini tampaknya sengaja dipelihara oleh sang kadal raksasa dan menjadi senjata utama sehingga luka sedikit saja dapat menyebabkan infeksi parah.
Begitu menggigit, seekor komodo pelan-pelan akan mengikuti mangsanya yang dalam waktu sekitar 24 jam akan mengalami sepsis atau keracunan infeksi darah hingga tewas. Komodo lalu dengan santai akan mulai melahap bangkai sang mangsa.
Pada kasus sang turis yang digigit komodo kakinya dilaporkan sobek dan tengah dirawat di rumah sakit. Kemungkinan obat antibiotik diperlukan untuk melawan bakteri-bakteri dari liur komodo.
Terkait hal tersebut, peneliti dari George Mason University pernah mengatakan kemungkinan komodo menyimpan rahasia obat antibiotik baru. Hal ini karena meski di dalam mulut komodo tersimpan banyak bakteri, ia sendiri tak pernah memiliki masalah karenanya.
"Komodo adalah spesies kadal hidup terbesar dan predator teratas di lingkungannya. Mereka mampu bertahan dari sejumlah bakteri patogen yang hidup di dalam liurnya dan dapat sembuh ketika mendapat luka setelah berkelahi dengan komodo lain. Ini mencerminkan kekuatan sistem imun mereka," tulis peneliti seperti dikutip dari Proteomo Research.
Baca juga: Darah Komodo Diteliti untuk Jadi Obat Antibiotik Baru (fds/vit)











































