4 Sebab Remaja Anggota Geng Motor Berbuat Onar dan Agresif

4 Sebab Remaja Anggota Geng Motor Berbuat Onar dan Agresif

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Rabu, 24 Mei 2017 18:45 WIB
4 Sebab Remaja Anggota Geng Motor Berbuat Onar dan Agresif
Penangkapan anggota geng motor di Cipayung. (Foto: Lamhot Aritonang)
Jakarta - Perilaku agresif yang ditunjukkan oleh para remaja anggota geng motor bukan tanpa sebab. Menurut keterangan polisi, mereka sengaja penyerang pengendara motor lain agar bisa dipilih menjadi ketua kelompok.

Mengenai hal ini, dr Andri SpKJ, dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera mengatakan memang pada remaja, kelompok merupakan hal paling penting dalam kehidupannya. Bahkan tak jarang kedekatan pada kelompok lebih erat daripada kedekatan dengan keluarga.

"Terutama memang pada anak usia 12 sampai 18 tahun ya. Kelompok itu adalah orang paling penting dalam pergaulan mereka," tutur dr Andri kepada detikHealth.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lalu, kira-kira apa penyebab remaja anggota geng motor bisa berbuat onar dan berperilaku agresif? Dirangkum detikHealth, berikut beberapa di antaranya:

Baca juga: Mengapa Remaja Geng Motor Bertindak Agresif dan Tak Kenal Takut?

1. Provokasi

Geng motor (Foto: Dok Humas Polrestabes Bandung)
Fase remaja sangat dipengaruhi oleh hormon. Tak jarang, pengaruh hormon ini membuat mereka rentan termakan provokasi oleh kelompok lain.

"Ketika ada grup atau kelompok lain yang memberikan tantangan, atau misalnya untuk masuk sebuah geng motor dia harus menjalani syarat-syarat, ini pasti langsung dilakukan, karena kan ditantang," tutur dr Andri.

2. Unjuk kemampuan

Anggota geng motor Sukabumi (Foto: Syahdan/detikcom)
Fase remaja merupakan fase untuk mencari identitas diri. Karena tidak jarang tingkah maupun perbuatan yang dilakukan tak lebih dari sekadar unjuk kemampuan atau unjuk kebolehan.

"Makanya kalau kita lihat mereka ngumpul-ngumpul, kejar-kejaran atau racing itu untuk apa, untuk dia bisa mampu menunjukkan kepada teman-temannya kalau dia jadi pemenang," tambahnya lagi.

3. Nilai-nilai belum kuat

Konvoi kelulusan anak SMA di Garut (Foto: Hakim Ghani)
Pada remaja, penanaman nilai-nilai kehidupan belum kuat. Sehingga remaja bisa saja menganggap apa yang mereka lakukan benar.

"Kalau nilai-nilai dalam diri mereka belum kuat, misalnya nilai menghargai sesama, menghargai orang tua, atau tidak ingin membuat keributan itu belum tertanam, bisa membuat mereka bertindak ekstrem ya," papar dokter berkacamata ini.

4. Rasa persahabatan

Siswa SMA di Ciracas yang hendak tawuran (Foto: Nugroho Tri Laksono/detikcom)
Seperti sudah disebutkan sebelumnya, rasa persahabatan yang erat membuat remaja lebih mementingkan kelompok daripada keluarga. Sehingga perilaku agresif bisa juga terjadi sebagai aksi balas dendam karena rekannya disakiti.

"Kalau kelompoknya disakiti, dia juga merasa disakiti. Jadi kompak, senasib sepenanggungan. Tapi ya ini caranya kurang baik," tutupnya.

Baca juga: Sadisnya Aksi Geng Motor di Jagakarsa, Begini Komentar Psikolog
Halaman 2 dari 5
Fase remaja sangat dipengaruhi oleh hormon. Tak jarang, pengaruh hormon ini membuat mereka rentan termakan provokasi oleh kelompok lain.

"Ketika ada grup atau kelompok lain yang memberikan tantangan, atau misalnya untuk masuk sebuah geng motor dia harus menjalani syarat-syarat, ini pasti langsung dilakukan, karena kan ditantang," tutur dr Andri.

Fase remaja merupakan fase untuk mencari identitas diri. Karena tidak jarang tingkah maupun perbuatan yang dilakukan tak lebih dari sekadar unjuk kemampuan atau unjuk kebolehan.

"Makanya kalau kita lihat mereka ngumpul-ngumpul, kejar-kejaran atau racing itu untuk apa, untuk dia bisa mampu menunjukkan kepada teman-temannya kalau dia jadi pemenang," tambahnya lagi.

Pada remaja, penanaman nilai-nilai kehidupan belum kuat. Sehingga remaja bisa saja menganggap apa yang mereka lakukan benar.

"Kalau nilai-nilai dalam diri mereka belum kuat, misalnya nilai menghargai sesama, menghargai orang tua, atau tidak ingin membuat keributan itu belum tertanam, bisa membuat mereka bertindak ekstrem ya," papar dokter berkacamata ini.

Seperti sudah disebutkan sebelumnya, rasa persahabatan yang erat membuat remaja lebih mementingkan kelompok daripada keluarga. Sehingga perilaku agresif bisa juga terjadi sebagai aksi balas dendam karena rekannya disakiti.

"Kalau kelompoknya disakiti, dia juga merasa disakiti. Jadi kompak, senasib sepenanggungan. Tapi ya ini caranya kurang baik," tutupnya.

Baca juga: Sadisnya Aksi Geng Motor di Jagakarsa, Begini Komentar Psikolog

(mrs/vit)

Berita Terkait