ADVERTISEMENT

Minggu, 28 Mei 2017 07:33 WIB

Bagi Kesehatan, Ini Efek Liburan Terlalu Lama

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: thinkstock
Jakarta - Saat jenuh dan kepenatan menghampiri, tak ada salahnya meminta cuti kerja dan berlibur ke suatu tempat. Tetapi peneliti berpesan, jangan lama-lama ya. Mengapa demikian?

Pekerja kantoran, yang rata-rata menghabiskan waktu hampir seharian dengan bekerja sambil duduk, memang bisa tetap sehat bila mengimbanginya dengan berolahraga sepulang kerja.

Akan tetapi terkadang begitu cuti atau mengambil jatah libur, yang bersangkutan memutuskan untuk berhenti sejenak dari kegiatan-kegiatan tersebut. Inilah yang membahayakan.

Tim peneliti dari University of Liverpool mengamati 28 partisipan yang bugar dan sehat dengan usia rata-rata 25 tahun dan Indeks Massa Tubuh (IMT) rata-rata 25 kg/m2. Selain dipasangi alat pengukur aktivitas fisik, mereka juga menjalani pemeriksaan kesehatan, di antaranya untuk mengukur massa otot dan lemak, kemampuan untuk memulihkan diri pasca olahraga dan tingkat kebugaran fisiknya.

Pemeriksaan dilakukan sebanyak dua kali, di hari pertama dan hari terakhir percobaan, dengan selang waktu 14 hari atau 2 pekan.

Hasilnya, dalam kurun waktu tersebut, aktivitas partisipan berkurang sebanyak 80 persen, di mana mereka yang semula mencatatkan 10.000 langkah perhari menjadi tinggal 1.500 langkah perhari.

Ini berarti waktu olahraga partisipan juga berkurang, dari yang semula 161 menit/hari menjadi hanya 36 menit/hari. Sebaliknya, waktu yang dihabiskan partisipan untuk duduk-duduk saja seharian selama 14 hari tersebut meningkat menjadi rata-rata 129 menit/hari.

Baca juga: Jika Seperti Ini, Momen Liburan Bisa Tingkatkan Kesehatan Jiwa Anda

Bagi Kesehatan, Ini Efek Liburan Terlalu LamaFoto: Thinkstock


Secara mengejutkan, hasil pemeriksaan menunjukkan terjadi penurunan massa otot dan peningkatan lemak tubuh total. Lemak di tubuh partisipan juga cenderung tersentral di perut, yang menjadi faktor risiko utama dari penyakit kronis.

Selain itu, tingkat kebugaran jantung dan paru-paru partisipan menurun drastis sehingga mereka tak sanggup berlari dengan intensitas yang sama seperti sebelumnya dan juga tak bisa selama sebelumnya. Begitu juga dengan peningkatan sensitivitas insulin yang berkaitan dengan risiko diabetes.

"Kami mengira perubahannya hanya sedikit saja. Tetapi ternyata hanya dalam kurun 2 pekan, dampaknya begitu besar," kata peneliti, Dr Dan Cuthbertson seperti dilaporkan Health.com.

Bagi Kesehatan, Ini Efek Liburan Terlalu LamaFoto: Thinkstock


Bila ini dibiarkan berlarut-larut, semisal sampai lebih dari 2 pekan, perubahan-perubahan tersebut bisa mengakibatkan munculnya penyakit metabolik kronis hingga kematian dini.

Beruntung Cuthbertson juga menemukan efek ini bisa terhindarkan jika partisipan segera ke aktivitas fisiknya seperti semula. "Persoalannya, banyak orang yang terlanjur malas setelah cuti dan alasan inilah yang mungkin mengakibatkan efek buruknya muncul. Padahal makin lama mereka tidak aktif, makin sulit untuk kembali ke bentuk tubuh semula," ujarnya.

Untuk itu kuncinya hanyalah tetap aktif, tetapi tak perlu dengan kegiatan yang berat. "Jadi ya memang selain menghindari duduk berlama-lama, fisik kita memang harus aktif setiap hari jika ingin terhindar dari penyakit apapun misalkan dengan jalan kaki saja," pesannya.

Baca juga: Liburan, Waktu yang Tepat untuk 'Detoks' dari Media Sosial (lll/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT