Setelah dipelajari lebih dalam, ternyata di dalam perut Caly bukan terdapat janin melainkan sebuah tumor seberat 5 pon (2,27 kilogram) dan membentuk kanker ovarium stadium tiga yang merupakan kanker langka.
Ia menghabiskan waktu tiga bulan untuk keluar-masuk rumah sakit, melakukan 21 kali kemoterapi, dan dia sudah mendapatkan remisi selama dua tahun. "Saya terus mengatakan kepada diri saya untuk selalu bersikap positif," tuturnya kepada Woman's Health.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Meninggal Pasca Melahirkan, Ibu Ini Kampanyekan Kanker Saat Hamil
Seorang pakar kesehatan wanita, Jennifer Wider, MD mengatakan bahwa kanker ovarium sangat jarang sekali terjadi pada remaja seusia Caly.Penyakit langka tersebut biasanya menyerang wanita dengan usia yang lebih tua, namun menurutnya bisa saja terjadi pada usia remaja.
Yang menjadi masalah adalah gejala-gejala kanker ovarium masih samar, jadi orang-orang tidak menyadarinya sejak awal. Menurut Wider biasanya gejala kanker ovarium mencakup ketidaknyamanan pada perut, sakit punggung, kembung, perubahan nafsu makan, perubahan kebiasaan buang air besar, mual, gangguan pencernaan, dan penurunan berat badan.
Dengan gejala seperti itu sulit sekali untuk mendeteksi apakah merupakan gejala kanker ovarium atau bukan. Namun Wider mengatakan jika Anda menurunkan berat badan tanpa alasan yang jelas dan memiliki perubahan pada kebiasaan buang air besar Anda, Anda perlu memberitahukan gejala tersebut pada dokter Anda.
Kanker ovarium juga bisa bersifat genetik, jadi penting untuk mengetahui riwayat keluarga Anda. Jika terdapat anggota keluarga yang mengalami kanker ovarium, segera kunjungi dokter untuk deteksi dini.
Baca juga: Studi Ini Sebut Kanker Saat Remaja Ancam Peluang Kehamilan
(up/up)











































