Jumat, 16 Jun 2017 03:20 WIB

Gencar Kampanye Anti Vaksin, 20 Provinsi Belum Capai Target Vaksinasi

Firdaus Anwar - detikHealth
Salah satu kegiatan imunisasi di Jakarta Timur (Foto: Rachman Haryanto) Salah satu kegiatan imunisasi di Jakarta Timur (Foto: Rachman Haryanto)
Topik Hangat Difteri Mewabah Lagi
Jakarta - Agar vaksin dapat memberikan perlindungan efektif dari penyakit, maka cakupannya dalam suatu populasi perlu mencapai tingkat tertentu. Alasannya karena ketika banyak individu yang divaksin mereka akan saling menguatkan dengan mempersempit ruang penyebaran bibit penyakit.

Hal itu disebut sebagai efek herd immunity dan bisa menjelaskan mengapa anak-anak yang tidak divaksin sekalipun bisa tetap sehat karena ikut terbantu terhindar dari penyakit.

Baca juga: Anak Oki Setiana Dewi Kena Campak, Dokter Ingatkan Pentingnya Vaksinasi

dr Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K), dari Rumah Vaksin mengatakan bahwa cakupan vaksin perlu mencapai 80 persen untuk bisa melindungi populasi secara efektif. Nah Indonesia sendiri juga punya target nasional yaitu pada tahun 2016 agar tiap provinsi bisa mencapai cakupan vaksin mencapai 90 persen.

Namun demikian data Kementerian Kesehatan menunjukkan baru 14 provinsi mencapai target 90 persen pada 2016. Artinya masih ada 20 provinsi lagi yang cakupan di daerahnya masih di bawah angka tersebut.

Provinsi dengan cakupan vaksinasi paling rendah adalah Papua dengan angka cakupan 62 persen populasi. Setelah itu disusul provinsi Aceh dengan angka cakupan yang hanya mencapai 69 persen.

Menurut dr Piprim di beberapa daerah seperti Aceh misalnya cakupan vaksinasi rendah karena ada gerakan penolakan. Vaksin ditolak karena dianggap mengandung babi sehingga haram bagi muslim atau dianggap konspirasi yahudi.

"Cakupan vaksinasi turun drastis gara-gara ceramah anti vaksin di mesjid. Akibatnya apa? Tahun 2014 berbagai upaya dilakukan tapi tetap muncul wabah difteri," ungkap dr Piprim kepada detikHealth dan ditulis Kamis (15/7/2017).

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Aceh, sepanjang tahun 2017 ada 53 warga dari beberapa kabupaten yang dilaporkan terkena difteri dan tiga di antaranya meninggal. Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan tahun 2016 yaitu 11 pasien dengan rincian 4 di antaranya meninggal dunia.

Difteri sendiri adalah penyakit menular akibat bakteri Corynebacterium diphteriae yang sudah lama dianggap musnah. Biasanya pasien yang terserang akan kesulitan menelan dan bernapas karena ada pembengkakkan selaput di bagian mulut serta leher.

Baca juga: Dokter: Gerakan Anti Vaksin Bisa Ancam Kesehatan Nasional

(fds/up)
Topik Hangat Difteri Mewabah Lagi
News Feed