Disia-siakan di negeri sendiri tak membuat dia masygul. Sebab, banyak lembaga penelitian, klinik dan rumah sakit di luar negeri justru antre untuk mentransfer pengetahuan darinya di bidang terapi kanker. Pada 8 Februari 2016, Warsito memulai pelatihan internasional pertama untuk penanganan kanker di Warsawa, Polandia.
Begitulah sekelumit perjalanan hidup Warsito yang tertuang dalam buku, 'Setrum Warsito' karya Fenty Effendy yang diluncurkan di Perpustakaan Kementerian Pendidikan, Selasa (13/6/2017). Buku setebal 324 halaman yang diterbitkan Noura Books ini tak melulu bicara soal rompi dan helm anti-kanker yang kontroversial. Di dalam juga berkisah tentang harapan, perjuangan, dan nilai-nilai kemanusiaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Rompi Antikanker Warsito Diarahkan Hanya untuk Kanker Payudara atau Serviks
Banyak kisah getir yang humanis terekam dalam buku ini. Tanpa ketekunan dan empati yang luar biasa dari Fenty selaku penulis, mustahil Warsito bersedia mengungkapkannya dengan tetap merasa nyaman. Dari penuturan pribadi maupun kesaksian orang-orang dekatnya, pembaca bisa paham betapa Warsito yang pendiam, perfeksionis dan mengutamakan presisi setiap melakukan sesuatu, bisa juga bertindak impulsif.
Dalam kurun lima tahun penelitian di Tangerang, sekurangnya enam komputer dan laptop hancur. Ada yang rusak alami karena faktor 'kelelahan', selebihnya karena dibanting hingga berkeping-keping oleh si empunya. Di lain waktu, koleganya sesama peneliti tak dapat berinteraksi dengan Warsito karena berkali-kali menghubungi telepon selularnya tak mendapat respons. Rupanya Warsito telah membanting telepon selularnya ke got karena kesal dengan proyek penelitian yang tengah dikerjakannya.
Baca juga: Mulai 27 Januari, Lab Dr Warsito Tak Layani Lagi Pasien Rompi Antikanker
Masa kecil Warsito betul-betul pahit. Tubuhnya yang mungil membuat dia kerap menjadi sasaran bully teman-temannya. Beruntung dia dianugerahi kecerdasan lebih. Saat kelas empat SD, ia terpilih mengikut lomba cerdas cermat tingkat kecamatan di Karanganyar bersama dua murid lainnya dari keluarga mapan. Melihat bajunya yang lusuh seorang guru mengantarnya pulang untuk mengganti. Toh Warsito cuma duduk diam di pinggir dipan kamarnya. Ia bingung mau ganti baju yang mana lagi. Sebab anak pasangan Purwo Taruno dan Rubiyah itu cuma punya dua, dan yang satunya lebih lusuh karena biasa dipakai ke sawah.
Di kemudian hari, anak keenam dari delapan bersaudara itu terpaksa mengunyah nasi bercampur kerikil sepulang sekolah yang ditempuhnya berjalan kaki beberapa kilometer. Bukan cuma karena sangat lapar, ia melakukan hal itu karena berempati penuh terhadap sang ayah. Rupanya seekor ayam telah menumpahkan nasi jatah Warsito di meja makan tanpa sempat terhindarkan oleh sang ayah yang cuma buruh tani.
Sisi lain Warsito Purwo. Taruno banyak menyimpan kisah inspiratif |
Baca juga: Pasca Review, Warsito Beri Training Soal Rompi Antikanker di Polandia
(up/ajg)












































Sisi lain Warsito Purwo. Taruno banyak menyimpan kisah inspiratif