Jumat, 23 Jun 2017 15:00 WIB

Kemungkinan Kondisi Kejiwaan di Balik Aksi 'Mandi Uang' Kades di Mojokerto

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Kades di Mojokerto Pamer Uang (Foto: Enggran Eko Budianto)
Jakarta - Syekh Nono, seorang Kepala Desa (Kades) di Kabupaten Mojokerto menggemparkan publik. Dalam sebuah video terlihat ia rebahan di atas tumpukan uang pecahan Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu.

dr Soetjipto, SpKJ(K) dari RSUD Dr Soetomo mengatakan perilaku pria yang belakangan diketahui bernama Suhartono tersebut merupakan hal biasa, sama halnya dengan kebiasaan selfie yang dimiliki sebagian orang.

Namun ia tak bisa mengatakan apa pemicunya sebab menurutnya, segala hal dalam kehidupan bisa menjadi stressor (pemicu stres).

"Pada dasarnya segala aspek kehidupan itu bisa menjadi stressor. Tak melulu negatif, bisa juga positif, jadi ada banyak kemungkinan," terangnya saat berbincang dengan detikHealth, Jumat (23/6/2017).

Meski identik dengan musibah atau kemalangan, stressor (pemicu stres) sebenarnya juga bisa berasal dari hal positif, seperti pada orang yang baru saja memenangkan undian atau mendapatkan uang sebesar Rp 1 miliar.

Baca juga: Ini Sosok Syekh Nono, Kades yang Tidur Bertabur 'Uang'

Tetapi dari pengamatannya, dr Cipto menilai Suhartono hanyalah memiliki kepribadian ekstrovert yang cenderung suka pamer ataupun narsisistik yang suka cari perhatian.

Kedua kondisi tersebut sudah cukup mendorong Suhartono untuk memamerkan dirinya berada di tengah tumpukan uang yang tidak diketahui milik siapa itu. "Tetapi kalau mau tahu (motifnya, red), lebih baik ditanya dulu, imbuhnya.

Sedangkan pada kasus pamer yang lebih buruk, ini juga bisa disebabkan oleh gangguan waham, yang ditunjukkan oleh orang-orang yang merasa dirinya raja atau mampu mendatangkan uang.

"Seperti Dimas Kanjeng itu. Itu kayaknya ada indikasi gangguan waham, seperti merasa titisannya siapa, punya kemampuan menggandakan uang, di samping ada faktor kriminalnya," jelas pria yang juga Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) cabang Surabaya tersebut.

Baca juga: Alasan Narsis di Medsos: Merasa Insecure Hingga Butuh Pengakuan

Terkait dengan penampilannya yang nyentrik yaitu beranting dan bertato, dr Cipto mengatakan ini juga tidak bisa mengindikasikan adanya gangguan kejiwaan.

"Tato itu kan artinya macem-macem. Bisa karena dia suka seni atau bentuk identitas diri," ungkapnya.

Di sisi lain, tato juga kerap menjadi sarana kompensasi ketika seseorang merasa tak memiliki apapun yang bisa dibanggakan dari dirinya. "Jadi supaya ditakuti orang atau membuat orang segan saja. Padahal kalau di tes-tes kepribadian, mungkin dia ini sebenarnya minder," lanjutnya.

Baca juga: Geger Pria Diduga Kades di Mojokerto Tidur di Atas Tumpukan 'Uang' (lll/up)