Selain PMS ada pula istilah PMDD atau Premenstrual Dysphoria Disorder. Gejala PMDD ini hampir sama dengan PMS, yaitu seperti perubahan suasana hati, depresi, kurangnya ketertarikan pada aktivitas, kelelahan, merasa tidak terkendali, mudah tersinggung dan marah.
Baca juga: Lagi, Gadis Nepal Dikabarkan Meninggal Karena Diasingkan Saat Haid
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan gejala yang hampir sama kebanyak orang selalu menganggapnya PMS. Oleh karena itu, memeriksakannya ke dokter adalah cara yang tepat untuk membedakan itu adalah gejala PMS, PMDD, atau gangguan lainnya.
"Salah satu kriteria diagnostik untuk PMDD adalah mengesampingkan kondisi lain. Misalnya, memastikan itu bukan kondisi kejiwaan seperti depresi, kecemasan atau sindrom pramenstruasi," kata direktur fertilitas demeter dan ginekologi, Dr David Knight.
Baca juga: Gara-gara PMS Ekstrem, Wanita Ini Memilih Operasi Angkat Rahim
Dokter juga harus menyingkirkan gangguan fisik seperti endometriosis, fibroid dan menopause. "Hal utama untuk membuat diagnosis ada dua, yaitu berapa lama gejala-gejala ini berlangsung dan apakah itu mempengaruhi hidup dan hubungan kamu?" ujar Dr Knight.
Salah satu bentuk pengobatan utama adalah penekanan ovarium dengan mengenalkan progesteron, namun salah satu hal yang harus diperhatikan oleh wanita dengan PMDD adalah mereka tidak toleran terhadap progesteron.
"Itu bisa memperburuk gejala. Hal lain yang kami coba adalah serotonin reuptake inhibitor (obat antidepresan)," imbuh Dr Knight.
Baca juga: Pesan Instruktur Yoga Soal Olahraga Ketika Sedang Datang Bulan
(wdw/up)










































