Senin, 28 Agu 2017 17:06 WIB

Stres karena Berita Hoax Bisa Bangkitkan Trauma Lama

Erika Kurnia - detikHealth
Pasien ini datang dengan ketakutan yang luar biasa akibat gejolak demo dan hoax yang mengingatkannya kembali pada bayangan traumatik di tahun 1998. Foto: Thinkstock Pasien ini datang dengan ketakutan yang luar biasa akibat gejolak demo dan hoax yang mengingatkannya kembali pada bayangan traumatik di tahun 1998. Foto: Thinkstock
Jakarta - Berita hoax maupun berita yang diterima secara salah saat ini begitu mudah ditangkap masyarakat melalui berbagai media sosial. Stres yang muncul akibat arus informasi yang begitu deras dan kesanggupan seseorang menanggapi hal tersebut bisa memicu gangguan mental, termasuk membangkitkan trauma lama.

Psikiater dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera, dr. Andri, SpKJ, pernah bertemu pasien dengan kasus seperti itu. Dalam rilis yang diterima DetikHealth, Senin (28/8/2017), dr Andri menuliskan bahwa pasien tersebut pertama kali datang dengan ketakutan yang luar biasa.

"Perempuan usia paruh baya ini datang dengan ketakutan yang luar biasa akibat berita dari media sosial yang berkaitan dengan gejolak demo dan hoax tentang etnis Tionghoa. Itu membuat bayangan traumatik di masa tahun 1998 kembali teringat," tulisnya.

Baca juga: Menebar Hoax dan Kebencian ala Saracen dari Kacamata Psikologis

Pada 1998, pasien mengaku dia hampir mengalami dampak dari keberingasan massa. Setelah peristiwa tersebut, dia harus menjalani perawatan psikiatrik karena masalah yang terkait dengan traumatik yang dia alami.

"Ketidakstabilan situasi saat ini dan banyaknya berita hoax berkaitan dengan kondisi sekarang seperti menjadi pemicu buat dirinya. Di satu pihak dia tidak mau membacanya, namun di lain pihak dia merasa susah menghindari informasi yang sangat masif dan berlebihan di media sosial, bahkan grup WhatssApp keluarganya. Gejal-gejala kecemasan yang menyerupai kepanikan timbul kembali dan sering datang," jelasnya.

Menurut dr Andri, itu merupakan dampak dari begitu banyaknya informasi yang membuat kita sulit memilah mana yang benar mana yang salah. Termasuk mana yang merupakan informasi bikinan yang memang sengaja dibuat untuk kepentingan tertentu.

Baca juga: Penelitian Buktikan Kecanduan Medsos Ganggu Kesehatan Mental Remaja

"Saya memang merasa bahwa arus informasi saat ini sangat berlebihan dan kadang kita sendiri tidak mampu untuk mengatasi derasnya arus informasi tersebut. Sayangnya semua orang seolah merasa ingin untuk ikutan menyebarkan berita dan informasi yang belum tentu benar tersebut. Kadang mungkin hanya karena ingin dikatakan update berita," ujarnya.

Oleh karena itu, ia mengingatkan agar masyarakat baiknya mengolah informasi yang disebar melalui internet secara bijak. Caranya, jika mendapatkan broadcast berita jangan terlalu mudah percaya dan langsung meneruskan, terutama yang mengandung unsur SARA dan bisa menimbulkan konflik.

"Jika bermedia sosial di Facebook dan Twitter mungkin tidak selalu harus memberikan komentar. Jaga diri kita untuk lebih bijak dalam memberikan komentar dan menjaga jari kita meneruskan berita yang sepertinya malah bisa menimbulkan konflik di kemudian hari," pesannya.

Baca juga: Empat Cara Menjaga Kesehatan Mental, Salah Satunya Tidur

(mrs/mrs)
News Feed