Selasa, 03 Okt 2017 09:35 WIB

Infografis: Proses Pembuatan Nata de Coco dan Fungsi Urea di Dalamnya

Widiya Wiyanti - detikHealth
Proses pembuatan nata de coco campur urea/Foto: infografis Proses pembuatan nata de coco campur urea/Foto: infografis
Jakarta - Hebohnya kasus penggerebekan pabrik nata de coco di Blok Sawah Leuga Desa Slagedang, Kecamatan Sukahaji, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat membuat para pecintanya takut karena penggunaan pupuk ZA atau urea disebut-sebut membahayakan.

Seperti yang dijelaskan farmakolog dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr Zullies Ikawati, Apt bahwa penggunaan pupuk ZA atau urea adalah hal yang wajar dalam pembuatan nata de coco, asalkan dalm dosis dan proses pembuatan yang tepat.

"ZA adalah untuk menambah hara nitrogen bagi tanaman. Demikian pula bakteri Azetobacter xylinum, untuk hidup dan aktivitasnya dia membutuhkan sumber nitrogen sebagai makanannya. Jadi memang dalam pembuatan nata de coco diperlukan ZA sebagai sumber nitrogen," tulisnya dikutip dalam laman blog pribadinya, zulliesikawati.wordpress.com.

Baca juga: Pupuk ZA atau Urea untuk Pembuatan Nata De Coco Harus Food Grade

Nah, bagaimana proses pembuatan nata de coco yang benar dan aman untuk dikonsumsi sehingga tidak membahayakan kesehatan? Tentunya harus mempersiapkan bahan-bahannya terlebih dahulu, yaitu:

- Air kelapa murni
- Gula putih
- Amonium sulfat/ZA/Urea
- Asam cuka/Asam asetat
- Asam nitrat
- Bibit nata de coco (bakteri Acetobacter xylinum)

Air kelapa murni sebagai bahan utama harus disaring terlebih dahulu, kemudian dididihkan hingga mencapai suhu 100 derajat selsius. Dan campurkan didihan air kelapa tersebut dengan gula, ZA atau urea, dan asam asetat atau cuka.

Infografis: Proses Pembuatan Nata de Coco dan Fungsi Urea di DalamnyaProses pembuatan nata de coco campur urea/Foto: infografis


Setelah itu dituangkan ke wadah yang steril, diamkan hingga dingin. Setelah dingin, proses selanjutnya adalah mencampurkan bibit nata atau Azetobacter xylinum selama satu minggu. Perlu diingat, jangan sampai wadah terganggu, tersentuh, atau tergoyang.

Saat fermentasi ini lah peran Azetobacter xylinum mengubah glukosa dalam air kelapa menjadi serat-serat atau disebut selulosa, yang pada akhirnya menjadi lapisan-lapisan nata.

"Prosesnya dicuci, sisanya dibuang. Direndem lagi semalaman, besoknya dicuci lagi. Proses pencuciannya berulang-ulang supaya zat-zat yang berbahaya hilang. Makanya dicuci sampai bersih. Habis dipotong-potong masih direbus lagi," tuturnya kepada detikHealth, Senin (2/10/2017).

Pada proses terakhir, nata harus direbus lagi dan dibuang air rebusannya. Kemudian tidak lupa menambahkan asam sitrat untuk perasa tambahan dan pengawet alami.

Baca juga: Agar Tak Membahayakan, Pembuatan Nata de Coco Harus dengan Proses Tepat (wdw/up)
News Feed