Minggu, 15 Okt 2017 17:35 WIB

Leblouh: Tradisi Menggemukkan Diri Wanita Mauritania Agar Enteng Jodoh

Firdaus Anwar - detikHealth
Seorang wanita tampak sedang menghabiskan satu porsi besar makanan atau minuman. (Foto: instagram/jiggleojo)
Jakarta - Kalau biasanya para wanita akan sangat menjaga penampilan semenarik mungkin sebelum menikah dengat diet, apa yang dilakukan oleh wanita di Mauritania malah sebaliknya. Ada tradisi di mana mereka justru menggemukkan dirinya agar enteng jodoh.

Disebut leblouh, anak-anak perempuan sejak beranjak remaja akan sering dipaksa untuk banyak-banyak makan. Alasannya karena dalam budaya sosial Mauritania wanita yang gemuk dengan lapisan lemak berlipat-lipat di bawah kulit dianggap menarik, kaya, dan subur.

Baca juga: Kata Para Pakar tentang Orang-orang Gemuk yang Mengaku Sehat

Menurut pengakuan salah satu wanita yang pernah menjalani leblouh, Mint Ahmed, bila seorang anak perempuan tidak mau menghabiskan makanannya mereka akan dihukum. Para orang tua akan memberikan makanan tinggi lemak seperti susu atau daging-dagingan.

Dalam sehari wanita di Mauritania yang mengikuti tradisi leblouh bisa mengonsumsi 16.000 kalori makanan. Padahal normalnya orang dewasa hanya membutuhkan sekitar 2.000-2.500 kalori saja.

"Ibu mulai menggemukkan saya ketika saya masih berusia 13 tahun. Dia sering memukul agar saya lebih banyak makan makanan berminyak dan daging domba penuh lemak. Setiap kali saya memaksa makan rasanya perut seperti mau meledak," kata Mint seperti dikutip dari CNN, Minggu (15/10/2017).

Mar Jubero Capdeferro yang menjalankan program gender Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) di Mauritania mengatakan generasi muda saat ini mulai meninggalkan tradisi leblouh. Alasannya karena mereka sudah lebih teredukasi dan melihat langsung dampak buruk dari hal ini.

"Para wanita yang dulu menjalani leblouh sekarang kondisinya sangat gemuk di usia 40 hingga 50-an. Mereka bahkan tidak bisa bergerak dengan kondisi hipertensi, diabetes, dan lain sebagainya," kata Capdeferro.

Meski leblouh mulai ditinggalkan, namun survei tahun 2007 oleh Social Solidarity Association melihat bahwa tetap ada sekitar 75 persen anak perempuan di daerah pedesaan yang dipaksa menggemukkan dirinya.

Baca juga: Masih Dipercaya, 5 Hoax Diet Ini Justru Bisa Bikin Gemuk Lho (fds/fds)