Kamis, 19 Okt 2017 08:35 WIB

Gejala Hipoksia dan Pertolongan Pertama untuk Menghindari Dampak Fatal

Suherni Sulaeman - detikHealth
Untuk menolong pasien hipoksia pastikan jalan napasnya tak terganggu. (Foto: ilustrasi/thinkstock) Untuk menolong pasien hipoksia pastikan jalan napasnya tak terganggu. (Foto: ilustrasi/thinkstock)
Jakarta - Hipoksia kerap disebut menyusul meninggalnya kiper Persela, Choirul Huda yang mengalami benturan keras di bagian dada dan rahang bawah dalam laga melawan Semen Padang FC. Jika suatu waktu kondisi yang biasa dikenal dengan istilah hipoksia tersebut terjadi di sekitar Anda, ketahui cara penanganannya agar tidak berakibat fatal.

Menurut dokter dokter spesialis penyakit dalam, dr Anshori SpPD dari RSUD dr Saiful Anwar, Malang, Jawa Timur, sangat penting mengetahui bagaimana melakukan bantuan hidup dasar pada orang-orang yang mengalami gangguan ABC akut, yakni melakukan serangkaian usaha awal untuk mengembalikan fungsi pernapasan dan atau sirkulasi pada seseorang yang mengalami henti napas dan atau henti jantung (cardiac arrest).

"Bantuan hidup dasar terdiri dari meminta tolong atau memanggil bantuan, bila seorang diri, telepon dulu sarana kesehatan terdekat (RS atau ambulans), ambil AED (acute external defibrilator atau alat pacu jantung otomatis) bila ada," jelas dr Anshori kepada detikHealth.

Ia menjelaskan, bila ada penolong lain, maka satu penolong memanggil bantuan dan ambil AED, sedangkan yang lain langsung menolong korban.

Baca juga: Hipoksia dan Kaitannya dengan Kematian Kiper Choirul Huda

"Meminta pertolongan harus jelas mengenai kejadian, jumlah korban, lokasi, dan lainnya. Untuk ambulans di Indonesia nomer darurat yang bisa dihubungi adalah 118 atau telepon rumah sakit terdekat," tegas dr Anshori.

dr Anshori menambahkan, bila korban tidak memberi respons dan tidak bernapas atau napasnya tidak normal maka segera lakukan RJP yaitu resusitasi jantung paru yang terdiri dari tindakan kompresi dada dan pemberian napas bantuan.

"Prosedur ini dilakukan berulang 30 kali kompresi dada diselingi 2 kali napas bantuan, sampai bantuan datang," imbuh dr Anshori.

Baca juga: Lidah Tertelan, Bisakah Sebabkan Hipoksia? (hrn/up)
News Feed