Jumat, 27 Okt 2017 19:05 WIB

Ciri Orang yang Bisa Menyebar Video Porno dengan Motif Balas Dendam

Erika Kurnia - detikHealth
Ada tiga sifat yang bisa diperhatikan apakah seseorang bisa menyebarkan video porno untuk balas dendam. (Foto: GettyImages) Ada tiga sifat yang bisa diperhatikan apakah seseorang bisa menyebarkan video porno untuk balas dendam. (Foto: GettyImages)
Jakarta - Penyebaran video porno pribadi dengan motif balas dendam oleh pasangan adalah hal yang mengerikan. Hal ini yang kemungkinan terjadi pada kasus penyebaran video porno yang memuat wanita berinisial HA, yang heboh belakangan. Tindakan ini bisa dilatarbelakangi ciri kepribadian tertentu.

Fenomena pornografi balas dendam ini tercatat semakin menjadi sejak maraknya penggunaan media sosial dan menarik ahli psikologi untuk mempelajari perilaku penyebar video mesum atau porno, seperti Dr Afroditi Pina dari Fakultas Psikologi Universitas dan rekan-rekannya.

Dilansir dari Medicaldaily, Jumat (27/10/2017), mereka melihat bahwa pelaku pornografi balas dendam ini memiliki profil kepribadian yang berbeda, yang membuat mereka lebih cenderung melakukan kejahatan keji. Mereka menemukan korelasi positif antara kemungkinan besar untuk terlibat dalam aksi balas dendam dan tingkat karakteristik psikologis "Dark Triad" yang lebih tinggi.

Karakter "Dark Triad" berfokus pada tiga ciri kepribadian: narsisisme, machiavellianism, dan psikopati. Ketidakmampuan dan kurangnya empati adalah alasan paling kuat yang terkait dengan kemungkinan seseorang melakukan kejahatan tersebut.

Orang dengan ciri kepribadian ini juga lebih cenderung ingin tetap berteman setelah hubungan putus atau menjadi mantan, dengan alasan untuk keuntungan pribadi. Secara khusus, mereka yang memiliki narsisme tinggi lebih cenderung memilih kepraktisan dan kesempatan untuk bergaul sebagai alasan untuk memperpanjang hubungan romantis.

Baca juga: Senang Menyebarkan Video Porno? Ini Salah Satu Penjelasan Psikologisnya

"Tidak mengherankan, orang-orang seperti itu kesulitan untuk ikhlas menerima keadaannya dan membalas dendam untuk memberi kekuasaan dan kontrol lebih atas korban mereka, yang sering kali adalah mantan kekasih," tulis mereka.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa baik laki-laki maupun perempuan bisa menjadi korban dari kepribadian seperti itu, melalui ancaman fisik, pemantauan aktivitas online, atau ancaman untuk memposting foto telanjang secara online. Sebanyak 12 persen peserta laki-laki dan perempuan mengatakan bahwa mereka adalah korban kekerasan domestik dunia maya.

"Yang lebih mengkhawatirkan, ada penerimaan besar dari publik untuk membalas dendam dengan cara seperti ini. Sebagian besar tidak mungkin melakukan kejahatan itu sendiri, ini bisa memiliki implikasi yang signifikan, terutama jika seseorang menganggap media online bisa lebih cepat membalas dendam mereka," tulis para peneliti.

Penelitian oleh ilmuwan di University of Kent di Inggris pernah menemukan, 99 persen orang menyatakan setidaknya beberapa persetujuan pada pornografi non-sensitif yang diposkan secara online dengan skenario balas dendam pasangan. Yang lebih mengejutkan lagi, 87 persen orang menunjukkan pemakluman pada konsep menjatuhkan mantan.

Sayangnya, hanya 29 persen peserta yang meyakini itu sebagai jenis penganiayaan domestik online. Sentimen ini dibagi di antara pria dan wanita, yang sama-sama rentan terhadap penganiayaan domestik secara online.

Baca juga: Benarkah Struktur Otak Berubah Akibat Pengaruh Video Porno? (fds/fds)
News Feed