Antibiotik digunakan untuk mencegah dan mengobati infeksi yang disebabkan oleh adanya bakteri. Hanya infeksi bakterilah yang membutuhkan peran antibiotik.
Apa yang akan terjadi jika antibiotik digunakan untuk mengobati infeksi selain bakteri? Direktur Ketua Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (PP IAI), Drs Nurul Falah Edi Pariang, Apt mengatakan bahwa akan terjadi resistensi antimikroba.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Penting! Lakukan Ini Ketika Diresepkan Antibiotik oleh Dokter
"Resistensi antimikroba di rumah sakit Indonesia sebanyak 49-84 persen, menurut dr Parathon Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA). Salah satunya akibat dari penggunaan antibiotik yang tidak benar di masyarakat, baik dosis, cara penggunaan, dan kepatuhannya," jelas Nurul dalam press conference Peningkatan Pelayanan Kefarmasian dalam Pengendalian Resistensi Antimikroba di Gedung Adhyatma Kementerian Kesehatan RI, Selasa (14/11/2017).
Maka dari itu, Sekertaris Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA), Mariatul Qibtiyah, SSi, Apt, SpFRS menganjurkan adanya pemeriksaan darah lengkap dan mikrobiologi sebelum pemberian antibiotik.
"Mekanisme resistensi itu terjadi secara alamiah. Jadi kalau penggunaannya rasional, bijak, benar, sewaktu-waktu bisa resisten tapi agak lama jangkanya. Kalau menggunakan yang enggak jelas infeksinya, dosisnya, biasanya lebih cepat bisa lima bulan sudah resistensi," tegasnya kepada detikHealth usai acara yang sama.
Untuk mencegah dan mengendalikan meningkatnya resistensi antimikroba ini, masyarakat harus memahami penggunaan antibiotik ini dan menggunakannya secara baik dan bijak.
Baca juga: Ini yang Harus Kamu Tahu Tentang Antibiotik
(wdw/up)











































