Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet baru-baru ini menyebut mereka yang mengalami kesulitan finansial berpeluang 13 kali lebih tinggi untuk terkena serangan jantung.
Peneliti mendasarkan temuannya dari pengamatan terhadap 106 pasien yang mengalami serangan jantung dan dilarikan ke sebuah rumah sakit di Johannesburg. Tiap partisipan kemudian diminta menilai seberapa tinggi tingkat stres mereka terkait kondisi finansial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Stres finansial ringan terjadi pada mereka yang memiliki penghasilan namun tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan, sedangkan stres finansial sedang terjadi pada mereka yang berpenghasilan namun terjebak dalam masalah keuangan. Beban finansial yang 'signifikan' dialami oleh mereka yang tidak berpenghasilan dan seringkali kesulitan untuk sekedar memenuhi kebutuhan dasar.
Dari survei yang dilakukan tiap tahun, American Psychological Association (APA) menemukan bahwa uang atau keadaan finansial selalu menjadi pemicu stres di jajaran teratas dari tahun ke tahun.
Baca juga: Demi Kesehatan, Jangan Sayang Keluarkan Uang Untuk Hal Berikut
Ditambahkan peneliti, bila dikaitkan dengan risiko penyakit kardiovaskular, dampak stres finansial ini sebenarnya sama besar dengan merokok dan tekanan darah tinggi.
Ketua tim peneliti, Dr Denishan Govender mendorong agar tim medis melakukan pencegahan dengan rutin menanyakan tingkat stres atau kondisi mental pasien.
"Biasanya pasien baru diberi konseling setelah serangan jantung terjadi. Secara umum dokter juga jarang menanyakan tentang kemungkinan stres atau depresi pada pasien," tuturnya seperti dilaporkan Medical News Today.
Padahal, lanjut Govender, evaluasi ini sudah harus dibiasakan, seperti halnya ketika dokter bertanya apakah pasiennya merokok atau tidak. Dari situ dokter bisa membantu memberikan konsultasi atau
Baca juga: Mungkinkah Seseorang Bunuh Diri karena Terlilit Utang? (lll/fds)











































